Sabtu, 02 September 2017

Maraknya Informasi Provokasi & Hoaxs di Media Sosial

                   Apakah Indonesia akan terpecah belah 20 tahun ke depan di era tren media sosial yang tak terkendali seperti ini ? Media Sosial adalah sebuah media komunikasi yang berbasis online yang bertujuan untuk mendapatkan informasi, komunikasi maupun interaksi sosial antar sesama, Perkembangan media sosial di Indonesia terjadi dari kurun waktu 2006-2017 terbilang cukup signifikan penggunanya bahkan indonesia menempati peringkat 4 dunia pengguna Facebook terbesar setelah USA, Brazil dan India (Kominfo.go.id), Namun prestasi itu bukanlah sebuah prestasi yang membanggakan perlu diketahui semakin banyaknya pengguna Media Sosial semakin banyak pula resiko yang menunggu. Dari data yang saya dapatkan  terlihat bagaimana mudahnya informasi Bohong (Hoaxs) menyebar tanpa batasan tentu hal ini sangatlah merugikan bagi semua pihak ditambah lagi dengan sikap masyarakat Indonesia yang mudah percaya akan informasi-informasi yang beredar di media sosial, memang sulit untuk membedakan berita Hoaxs dengan berita asli karena berita Hoaxs dimodel sedemikian mirip dengan berita asli, inilah yang membuat penyebaran berita Hoaxs semakin cepat dan menimbulkan dampak langsung kepada masyarakat terutama berita yang mengandung unsur Provokasi baik Politik, Ekonomi maupun Sosial budaya hal ini sangatlah merugikan karena dapat menimbulkan konflik sosial antar sesama.
Pemerintah sudah mengambil langkah tegas untuk mengatas adanya berita Hoaxs dengan Merevisi undang-undang (UU) ITE dan berlaku mulai 28 November 2016 sebagai landasan Hukum untuk menjerat pembuat berita Hoaxs dan penyebar berita Hoaxs ke publik. Menurut saya undang-undang ITE ini masih belum berjalan secara maksimal dan efisien dan saya rasa pemberlakuan undang-undang ITE ini masih tebang pilih terhadap setiap masalah dalam artian hanya sebagian saja. mari kita lihat fenomena-fenomena yang terjadi akibat media sosial belakangan ini. 
Memang benar dengan adanya dengan adanya Media Sosial lebih  mempermudah masyarakat modern untuk mendapatkan informasi & Komunikasi bahkan dapat untuk menyebarkan sebuah informasi baik berupa Foto ataupun video kepada publik., namun perlu dingat seiring dengan semakin mudahnya menyebarkan informasi melalui media sosial tanpa adanya kontrol ataupun batasan tertentu dikhawatirkan akan memberikan kesempatan kepada pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab untuk menyebarkan Informasi bohong (Hoaxs) yang ditujukan untuk tujuan tertentu. Berita Hoaxs dapat tersebar dengan cepat karena tingkat penggunaan Internet di Indonesia mencapai 132,7 juta pengguna pada 2016 menurut data APJII (Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia) dari besarnya pengguna internet ini lah menjadi salah satu parameter penyebaran berita Provokasi dan Hoaxs di indonesia, tidak cukup sampai disitu kominfo melakukan riset menyatakan bahwa telah beredar 800.000 Informasi /Berita Bohong (Hoaxs) dari data tersebut terlihat begitu mudanya penyebaran Informasi Hoaxs di Indonesia.
Berikut fenomena-fenomena Hoax yang ditemukan dimedia sosial yang belakangan ini terjaadi seperti halnya Berita Provokasi dan Hoaxs terjadi ketika menjelang Pilkada yang ditujukan untuk menjatuhkan lawan politik yang secara tidak langsung akan menjadi perdebatan di masyarakat. Fenomena Pelecehan Suku, Agama, Ras maupun Budaya baik berupa gambar, Tulisan ataupun video di Media Sosial. Adanya informasi tentang kematian seseorang yang memicu Kontroversi, Penyebaran konten pornografi baik foto ataupun video seseorang pejabat atau masyarakat dan ajakan-ajakan memprotes ataupun mengkritik pemerintah untuk kepentingan pihak tertentu dengan memberikan Informasi Provokasi kepada Masyarakat. Dari beberapa fenomena yang terjadi seperti contoh diatas terlihat bahwa Media sosial ini perlu dibatasi ataupun dikendalikan agar tidak terjadi hal-hal yang merugikan semua pihak. 
                     
Dari fenomena dan fakta-fakta yang terjadi tersebut adalah dampak dari Media sosial yang tak terkendali, disini saya akan menerapkan teori “Depedensi Efek Komunikasi Massa” teori ini dikembangkan oleh Melvin .De Fluer (1976), yang memfokuskan pada kondisi Struktural suatu masyarakat yang mengatur kecenderungan kecenderungan terjadinya suatu efek media massa, teori ini berangkat dari sifat masyarakat modern, dimana media massa atau media sosial dianggap sebagai sistem informasi yang memilliki peran penting dalam proses memelihara perubahan, perubahan, konflik pada tutunan masyarakat, kelompok dan individu dalam aktivitas sosial. Dengan menerapkan beberapa langkah guna untuk mengatasi dan mengendalikan dampak dari media sosial adalah sebagai berikut
  •  Kognitif
-          Menciptakan atau menghilangkan Ambiguitas.
-          Memperluas sistem keyakinan pada masyarakat
  • Behavioral
-          Membuat penyelesaian dari setiap masalah dan meredakanya dari media sosial ini
Saya akan mengambil 2 point yaitu kognitif dan Behavioral untuk mengendalikan efek dari media sosial saat ini dengan memberikan keyakinan pada masyarakat dan memberikan penyelesaian dari setiap masalah, langkah awal untuk mewujudkan keyakinan pada masyarakat, Pemerintah harus berani mengambil langkah untuk mengembangkan sendiri media sosial buatan indonesia dengan bekerja sama ahli IT di negeri ini untuk mengembangkan atau membuat media sosial buatan Indonesia, saya pikir sumber daya manusia di Indonesia sudah cukup potensial untuk mengembangkan media sosial sendiri bahkan di Indonesia mempunyai pangsa pasar yang cukup menjanjikan dengan penduduk 250 juta jiwa,  dengan kita mengembangkan media sosial sendiri dan pemerintah membuat kebijakan untuk melarang penggunaan media sosial asing di Indonesia kemudian menggantinya dengan media sosial buatan Indonesia dengan demikian pemerintah bisa mengontrol penuh aktivitas-aktivitas yang ada di Media sosial, dengan membuat ketentuan-ketentuan kepada pengguna serta dapat membatasi pengguna yang merugikan ataupun melakukan pemblokiran terhadap penggunanya. Sangat sempurna menurut saya undang-undang ITE yang sudah diterbitkan dan media sosial dikendalikan oleh pemerintah sendiri bukan oleh pemerintah Asing, dengan ini maka seluruh pengguna yang melanggar aturan akan lebih mudah terdeteksi dan dikenai Hukum yang berlaku. Langkah selanjutnya tingggal dikembangkan media sosial yang berbasis khusus berita dan mana media sosial yang khusus pribadi dari hal ini lah yang membuat masyarakat percaya terhadap kebenaran informasi yang beredar serta pemerintah memberikan Transparansi terrhadap setiap berita dan informasi yang beredar. Disamping itu pemerintah juga dapat memanfaatkan dan lebih menggali potensi Media sosial lebih dalam lagi agar dapat bersaing dengan penemuan-penemuan diluar negeri.

Ditulis oleh : Muchammad Yulianto
Dari mahasiswa fakultas Hukum Universuitas 17 Agustus 1945 Surabaya.
Esai ini memenangkan juara 2 lomba opini TIUPS


 

Jumat, 23 Juni 2017

Dead Poet Society


Review Film
Judul : Dead Poet Society
Sutradara : Peter Weir
Penulis Skenario : Tom Schulman
Pemain : Robin Williams, Robert Sean Leonard, Ethan Hawke, Josh Carles.
Tahun : 2 Juni 1989
Asal : Amerika Serikat

Sinopsis :
Kisah ini bermula dari 7 siswa yang bersekolah di Akademi Welton, yakni salah satu sekolah elite yang ada di Amerika Serikat. Mereka adalah Neil, Todd, Knox, Charlie, Richard, Steven, dan Gerard. Mereka merasakan ketidak nyamanan ketika bersekolah di sana, karena peraturan yang ketat dan kolot. Hingga suatu hari mereka bertemu dan dididik oleh seorang guru yang berbeda, nyentrik, bahkan unik pemikirannya. Beliau adalah Mr. John Keating. Beliau mengajar Sastra Inggris dan metode pengajarannya pun unik beda dari guru – guru lain yang terasa membosankan dan kolot. Dan karena itu, pemikiran mereka mengenai ilmu pengetahuan pun berubah. Suatu hari, Neil dan teman – temannya menemukan buku tua, buku tersebut berisi salah satu profil guru sastra Inggris mereka, yup Mr John Keating pernah memiliki club rahasia yang diberi nama Dead Poet Society, di mana anggotanya menyukai dan gemar membaca puisi, serta memiliki sudut pandang yang berbeda akan suatu hal. Karena hal ini, Neil dan teman – teman memiliki ide untuk membentuk sebuah klub yang sama.

Review :


Yup, film ini memang film lama. Keluaran tahun 89, tapi jangan salah. Film ini termasuk salah satu film terbaik. This movie is old but gold! Semua orang, khususnya seseorang yang berprofesi sebagai guru maupun tenaga pengajar seperti dosen. Film ini banyak mengandung pesan moral mengenai pendidikan, mimpi, dan bakat seseorang. Lewat film ini, kita bisa melihat bahwa sang suradara menyindir pemikiran kuno dan kolot pada masanya. Dengan jargon yang khas, yakni Carpe Diem (seize the day = gapai hari) penonton akan bisa merasakan bahwa pendidikan pada masa tersebut sangatlah ketat dan kolot. Sosok Keating sebagai guru sastra Inggris mengajarkan murid – muridnya untuk mengetahui bagaimana cara kita menikmati hidup, mencintai hidup, mencintai diri sendiri, mengejar mimpi kita dan bagaimana kita menjalani hidup kita sesuai dengan passion, karena hal itu yang menjadikan kita “hidup” dan mencintai hidup kita. Tidak hanya itu, film ini juga mengajarkan kita pentingnya kita memiliki mimpi, film ini juga mengajarkan arti pertemanan. Dan saya juga memimpikan, bahwa suatu hari saya bisa menemukan sosok guru seperti Mr. Keating dengan pemikirannya revolusioner.


Minggu, 11 Juni 2017

Refleksi Perayaan Dies Natalies UKM Fordimapelar UNTAG Surabaya

      Sabtu, 10 Juni 2017 kami merayakan hari jadi UKM Fordimapelar yang ke-26. Acara tersebut terbilang sederhana namun juga berkesan. Saya sebagai anggota Fordimapelar angkatan 2016 tidak bisa mengikuti kegiatan acara sampai selesai karena harus pulang mendahului teman – teman yang lain. Pertama, acara dibuka dengan sambutan dari pembina UKM Fordimapelar, Prof. Dr. Arif Darmawan, SU. Dan tak lupa alumni UKM Fordimapelar juga memberikan sambutan, mas Izul namanya. Beliau angkatan 2001. Beliau menceritakan sepak terjang yang luar biasa di UKM Fordimapelar. Beliau hebat, saya dibuat terpukau oleh pengalaman yang ia dapat di Fordimapelar Lalu, kemudian berlanjut dengan kegiatan doa bersama, selanjutnya melakukan pemotongan tumpeng yang dilakukan bersamaan dengan kegiatan buka bersama. Acara tersebut didatangi dengan alumni, anggota, dan pengurus UKM Fordimapelar periode 2016-2017. 

Setelah buka bersama, acara berlanjut dengan diadakannya sholat tarawih dan masuk kepada puncak acara, yaitu malam gempar. Malam gempar berisi di mana demisioner UKM Fordimapelar berbagi pengalaman – pengalamannya selama ada di Fordimapelar. Malam itu, demisioner yang akrab disapa mas Adit membagikan penglamannya selama ia ada di Fordimapelar. Mas Adit adalah alumni angkatan 2011. Ada perkataan mas Adit yang cukup menohok, seperti “Tujuan kalian apa di Fordi? Di Fordi nggak ada yang enak. Apa jangan – jangan kalian cuma patung yang menemani patungnya Fordi? Apa jangan – jangan kalian nggak “kanggo” (berguna)? Kalau kalian nggak niat, mending kalian keluar mulai dari sekarang!” begitulah lebih kurang perkataan mas Adit pada malam tersebut. Pada saat itu, saya tidak berani mengacungkan tangan, karena saya adalah tipikal orang yang tidak bisa speak up di depan umum. Maka dari itu saya menyimpan kata – kata saya. Perkataan dan pernyataan mas Adit menjadi bahan refleksi bagi saya. Saya mempertanyakan kembali tujuan saya di Fordimapelar. Pada awalnya, saya tidak tahu menahu mengenai apa itu Fordimapelar, untuk membayar rasa penasaran saya, saya harus masuk dalam UKM tersebut. Akhirnya, saya tahu bahwa UKM Fordimapelar adalah UKM yang melatih nalar kita agar berpikir kritis. Sudahkah saya mendapatlan hal itu? Sejujurnya, masih belum. Tidak, bukan salah Fordi, tapi salah saya karena saya kurang berlatih. Apa yang saya cari di Fordi? Saya mencari keluarga baru, sahabat baru, sahabat yang lintas jurusan agar kita bisa berbagi dan bertukar pengalaman terlebih saya jurusan Sastra dan pada angkatan saya, hanya saya saja yang dari sastra. Sudahkah saya menemukan hal itu? Sedikit demi sedikit sudah, saya sudah menemukan keluarga dan kerabat baru meskipun belum sepenuhnya dekat, terlebih dengan angkatan yang terdahulu karena saya pun adalah tipikal orang yang introvert. Pertanyaan dan pernyataan mas Adit tersebut cukup menyentil saya. Mempertanyakan apa – apa sajakah tujuan saya dan apa – apa sajakah yang saya sudah capai di Fordi. Saya belum berhasil untuk mencapai suatu apapun. Tapi saya akan tetap belajar. Saya dahulu adalah orang yang awam terhadap organisasi, semasa saya duduk di bangku SMP hingga SMA saya tidak pernah bergabung dalam OSIS. Dan Fordi sudah memberikan saya pengalaman organisasi yang luar biasa.

Sejujrunya Fordimapelar bukanlah zona nyaman saya, saya menantang diri saya untuk keluar dari zona nyaman. Saya juga minder, karena melihat anggota – anggota Fordimapelar yang luar biasa dalam debat, speak up, retorika, bernalar, dan lain lain. Dan saya bertanya – tanya pada diri saya, mengapa saya begitu gugup bila berbicara di depan umum? Mengapa ketika saya menulis, isi kepala saya bisa keluar bertumpah – ruah? Kalau semalam saya berani bilang, mungkin saya akan mengatakan hal ini pada mas Adit “Tujuan saya mengikuti Fordi adalah karena pada awalnya saya tidak memiliki gagasan apapun mengenai Fordimapelar itu apa dan saya sangat suka menulis, saya ingin menyalurkan kegemaran saya di Fordi, serta saya ingin belajar mengenai jurnalistik. Saya ingin belajar berorganisasi, dan juga saya ingin mencari rumah kedua, keluarga baru, dan sahabat baru,” ya, mungkin itu yang akan saya katakan. Yah, sayangnya saya tidak memiliki keberanian yang cukup, maka dari itu saya menyalurkannya melalui tulisan. 

Kadang terlintas di benak saya, apa mungkin suatu hari nanti saya bisa bercakap di depan umum tanpa ada rasanya gugup? Apa mungkin saya bisa menjadi orang yang lebih supel? Apa jangan – jangan selama ini teman – teman dan angkatan atas (demisioner) merasa repot memiliki anggota seperti saya? Saya minta maaf yang apabila saya orangnya sulit untuk diajari, sulit untuk diarahkan. Tetapi yang jelas, hal itu bercokol di pikiran saya mengenai tujuan – tujuan saya ada di Fordi.

Pada hari jadi Fordimapelar yang ke-26 ini, saya harap UKM Fordimapelar bisa menciptakan kader kader penerus organisasi yang luar biasa, semoga. Dan tak lupa, saya akan tetap belajar untuk lebih berani lagi. Karena saya lebih suka mengeluarkan isi kepala saya melalui tulisan daripada berbicara. Untuk Fordimapelar, terima kasih karena di tempat ini saya belajar banyak hal. Terima kasih dan insya’Allah saya akan terus berproses dan belajar. 


Salam hangat,

Mega Fadilla.

Kamis, 08 Juni 2017

DINAMIKA DAN DIALEKTIKA PERKEMBANGAN GENERASI


sejarah kehidupan dan peradapan telah melahirkan generasi yang beragam. Masing-masing generasi memiliki keunikan dan kompleksitasnya sendiri-sendiri. demikian terjadi karena adanya batasan-batasan segmentasi setiap generasi. adapun keberagaman, keunikan disetiap generasi telah melahirkan pembaruan pola pikir dan pola sikap. pada gilirannya akan menjadi kebiasaan dilingkup masyarakat, maka dapat diartikan hal ini sebagai fenomena kebudayaan. Adapun Sebuah fakta menarik dalam perkembangan dunia Human Capital saat itu dan sekarang, yaitu munculnya Generasi X, Generasi Y serta Generasi Z yang kini mulai berkembang dan menjadi gaya hidup masyarakat dunia begitupun dindonesia. Gaya hidup seorang manusia biasa menjadi tidak biasa, yang tidak biasa menjadi luar biasa, semua itu terjadi dari pola pikir manusia. Generasi yang berkembang saat ini, tellah mengalami degradasi nilai humanity, generasi yang biasa disebut sebagai generasi Z, dengan ciri-ciri sebagai generasi yang ingin mencapai sesuatu tanpa sebuah proses (besifat instan), serta dalam besikap lebih mementingkan individualistik untuk suatu kepuasan yang disebut eksistensi. 

Pasca perang dunia kedua, yang berakhir sekitar abad ke 20, saat itulah mulai munculnya teori generasi ( generation theory ) oleh seorang pemikir bernama Strauss-Howe, teori ini mempelajari berbagai jenis karakter dari generasi X, Y menjadi Z. Strauss-howe memfokuskan pengamatannya pada Segala sesuatu terutama berhubungan dengan kebiasaan manusia dalam beraktivitas, sehingga ada kaitannya dengan ciri-ciri dari setiap generasi tersebut. setiap generasi-generasi yang muncul dapat menularkan berbagai luaran namun terkadang ada baik serta buruknya, Seperti halnya generasi X yang muncul pada saat tahun 1965-1980, generasi inilah penyebab lahirnya sebuah tokoh perubahan yang disebut teknologi serta generasi yang berani mendobrak nilai-nilai tradisional yang sebelumnya mereka anggap kolot. Mereka mengalami perkembangan dalam segala sesuatunya seperti adanya video musik, new wave, musik elektronik, musik heavy metal dan jenis musik rock. karakteristik generasi X juga dikenal sebagai generasi mandiri dan mudah beradaptasi, mereka memiliki pendidikan tinggi, aktif, mejalankan hidup yang seimbang, bahagia dan berorientasi pada keluarga. dalam dunia pekerjaan pun sangat memberikan kontribusi yang baik di tempat kerja, dengan pekerjanya yang sangat kompeten dan bisa diandalkan. Dilain sisi dari generasi X yang begitu banyak memberikan manfaatnya, generasi X tanpa sadar sudah mulai meracuni pola pikir serta tingkah laku manusia, membuat manusia berubah dalam perilakunya, seperti gaya berpakaian, kebiasaan mentato serta mentindih sebagian dari tubuhnya, menjabrik potongan rambut persis dengan idolanya, Namun masih sebatas kelompok masyarakat di zona perkotaan saja, hal yang paling fundamental adalah temuan-temuan teknologi, yang kelak berkembang menjadi sebuah alat – alat industrialis baru, serta semakin menambah kerakusaan umat manusia untuk mengapai dunia dengan tangannya. Kelak wariasan penemuan dan pengetahuan dibidang teknologi ini dilanjutkan oleh generasi-selanjutnya, yang kemudian diberi nama generasi Y. Genarasi Y memiliki peran yang cukup strategis dan visioner, sebab digenarasi Y ini lah, temuan-temuan pengetahuan dan teknologi semakin berkembang pesat. Sebagai generasi yang memiliki tugas untuk melanjutkan temuan-temuan dari genarasi X yang masih belum terselesaikan dalam mewujudkan suatu tatanan kehidupan yang lebih baik dan lebih memudahkan umat manusia dalam beraktifitas. 

Generasi Y dengan segala inovasi dan kreatifitasnya, telah melahirkan satu penemuan terbarukan dalam bidang pengetahuan dan teknologi. Adapun subangsih generasi Y antara lain dalam dunia teknologi, dengan ditemukannya telfon, internet, Handphone dsb. Karakteristik generasi Y adalah generasi yang memiliki inovasi dan kreatifitas serta ketekunan yang luar biasa dalam melakukan sesuatu untuk mencapai tujuan. Sumbangsi penemuan generasi Y sangat membantu kehidupan dalam bermasyarakat, atau biasa dikatakan sumbangsi generasi Y telah mampu mewujudkan cita-cita “kehidupan yang mampu menjangkau kehidupan yang luas melebihi wilayah dan batas teritorial, yang membawa kehidupan lebih praktis” namun sumbangsi dari inovasi dan kreatifitas yang begitu diagung-agungkan dimasanya, telah menuai titik lemah, yakni ketika kehidupan yang diimpikan para generasi sebelumnya telah tercapai, yakni kehidupan yang mudah dan praktis, menjadi mala-petaka bagi genrasi selanjutnya yang dikenal sebagai generasi Z, atau bisa dikatakan sebagai generasi terakhir. 

Generasi Z, bisa dikatakan sebagai generasi yang beruntung dan juga buntung, sebab dengan segala perkembangan kondisi dan situasi perkembangan pengetahuan dan teknologi yang telah diwariskan oleh generasi seblumnya, telah membawa kemudahan-kemudahan tersendiri, namun dengan segala kemudahan yang telah dinikmati, dan mudah dijumpai ini membawa kepada jurang kehancuran dan menjadi malapetaka tersendiri. Dengan adanya teknologi modern ini, generasi Z memiliki kemudahan untuk mencapai tujuan dengan cepat, dan mudah. Dengan segala kemudahan yang telah dinikmati, tidak membawa kemajuan yang cukup signifikan dalam berkehidupan, justru sebaliknya kemudahan-kemudahan yang telah dinimkati, menjadikan generasi Z, ketergantungan pada teknologi. Dalam bersikap generasi Z telah kehilanganjati dirinya atau jiwanya sebagai human “manusia”, ketergantungan teknologi yang semakin hari-semakin memabukan dirinya, generasi Z mulai hidup di antara dua dunia, dan mulai kehilangan dunia realitas, dan mualai terjerum dalam dunia hyper-rialitas. Kecanduan teknologi ini, kelak akan mempengaruhi sikap dari generasi Z. Sikap Generasi Z dalam lingkunagan yang pertama akan bersikap lebih pasif dalam lingkungan rialitas, dan cenderung riaksioner dalam lingkungan hyper-realitas, kecenderungan kedua mudah menyerah dan prustasi dalam berusaha, kecenderungan yang ke tiga akan lebih praktis dan menjahui proses dalam melakukan sesuatu. 

Melihat perkembangan dialektika perkembangan generasi, telah mencapai pada titik yang teramat kritis, degradasi nilai kemanusian yang begitu nampak didepan mata kita, hilangnya kepribadian didalam diri kita, hilangnya nilai sosial serta hilangnya control diri dalam diri kita. Perkembangan generasi dan pengetahuan serta teknologi tidak membawa kita pada kehidupan yang lebih baik, malah menghancurkan kita. Di zaman ini, Jika kita hitung, berapa lama kita menjadi diri kita sendiri? Maka hanya 2-3 jam kita menjadi diri kita, bahkan mungkin kita tidak pernah menjadi diri kita, sebab kesadaran kita tergantung pada teknologi dan informasi yang diinjeksi dari luar diri kita. Maka dapat dipastikan kehidupan generasi kita telah mati dari dirinya sendiri. Dan kita akan hidup tanpa kesadaran dan hanya hidup outomatis oleh prangkat-prangkat yang ada disekeliling 


penulis: Asep Aan Ardiana

Rabu, 07 Juni 2017

TANDA TANYA

Tanya yang tak segera tersentuh
Statis logika dan perasaan yang terlalu selektif
Searah dengan pemikiran ketat

Adakah seluruh tanyaku ini terasa olehmu,
yang tertutup banyang abu - abu?
Hilanglah kata yang hendak kuucap
Bak bunga layu di ujung kebun

Mungkinkah diamku berkeliaran menebar bom atom kekalutan?
Sehingga kau muncul dengan memperpanjang atau memberi jawaban?

Membuatku dehidrasi dan berjarak,
dengan negosiasi
Hak dan kewajiban antara yang nyata,
dengan imajinasi
Tanganku tak mampu menuliskan
Aku ragu,
Para malaikat yang seharusnya
membantu berjaga dan menuliskannya

Rasanya..
Hanyalah aku, penanya rahasia
yang belum menemukan titik ekuilibrium
Inilah logika dengan perasaan,
yang belum terbawa angin menemukan jawab.

(Intan Jauharul Makhnun)

Gila Ijazah & Tamak Nilai : Pelajar Masa Kini


“nomor 3,4,5 jawabannya apa? ,
Sudah ngerjain tugas belum? Minta dong, 
Sudah ngerjain makalah? Boleh copas gak?
 Yang penting lulus, dapat ijazah” 

Dialog di atas adalah potret pelajar masa kini. Fenomena pelajar tersebut telah mejadi budaya pada dunia pendidikan. Ironisnya, pelajar menganggap bahwa nilai dan ijazah adalah tujuan utama pendidikan. Jika seperti itu apakah ini yang disebut pendidikan telah kehilangan maknanya? 

Pelajar sekarang memandang nilai bagus atau IPK tinggi adalah hal yang harus di prioritaskan agar diakui kemampuan dan keberadaanya di linkungan keluarga maupun masyarakat, Padahal belum tentu seseorang yang memiliki nilai tinggi itu memiliki ilmu yang tinggi pula. Bisa jadi orang yang IPK nya pas-pasan lebih mumpuni ilmunya dari pada orang yang IPK nya tinggi. 

Ada si bodoh dengan IPK tinggi dan si Pandai dengan IPK pas-pasan. Itu semua erat kaitannya dengan adanya "Proses" dan "Hasil". Dewasa ini terkadang ada juga Guru atau Dosen yang hanya mementingkan "hasil" dari belajar mengajar, ketimbang "proses" selama belajar mengajar. Hal ini dapat memicu terjadinya berbagai kecurangan yang dilakukan pelajar dalam mendapatkan nilai. Pelajar akan melakukan apapun agar mendapat nilai yang maksimal. 

Mencontek ketika ujian, mengambil hasil kerja tugas teman tanpa mau mengerjakan dan sebagainya. Tidak peduli halal atau haram, baik atau buruk . Tuntutan Nilai atau IPK yang bagus, untuk bisa berkompetisi di dunia kerja, merupakan salah satu faktor mahasiswa tamak akan nilai yang tinggi. Padahal IPK yang tinggi juga membutuhkan tanggung jawab yang besar pula dari si empunya. Bayangkan, jika Si Bodoh dengan IPK tinggi masuk di sebuah perusahaan karena prestasi akademik yang tertulis di dalam transkip nilai, kemudian ketika bekerja ia tidak bisa banyak melakukan pekerjaan yang diamanahkan kepadanya, Sungguh hal yang memalukan bukan? 

Inilah sedikit potret pandangan pelajar Indonesia yang membuktikan bahwa nilai ijazah tidak menandakan kualitas pelajar. Ketamakan nilai dan gila ijazah para pelajar kini membuat fungsi dan tujuan pendidikan tidak lagi berjalan dengan semestinya. Di mana seharusnya Pendidikan untuk memberikan suatu pengajaran dengan ilmu pengetahuan untuk membentuk karakter bangsa yang takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, serta mencetak karakter, kreatifitas dan kecerdasan anak sejak dini, namun kenyataannya pendidikan sekarang hanyalah jalan untuk mendapat Ijazah dengan nilai memuaskan sebagai golden ticket untuk memasuki dunia kerja untuk menjadi pekerja dan meraih jabatan sehingga kesejahteraan hidup pun terjamin. 

Dari data yang dikeluarkan BPS pada bulan Februari 2015. Bahwa sebanyak 400 ribu pemuda Indonesia yang bertitel sarjana menjadi pengangguran. Sangat disayangkan melihat fenomena pelajar zaman sekarang yang seperti ini. Ekspetasi awal yang menggebu-gebu ingin mendapatkan pekerjaan yang layak, tidak sesuai dengan kenyataan yang terjadi setelah mereka lulus. Bingung, pontang panting mencari pekerjaan, berusaha memantaskan diri menjadi para pekerja, menjadi para pesuruh. Dan akhirnya pasrah, apapun pekerjaannya selagi halal akan mereka lakukan. 

Lalu, bagaimana dengan ilmu pengetahuan yang mereka dapatkan selama empat tahun di bangku perkuliahan? Kalau akhirnya hanya menjadi seorang pekerja yang melakukan pekerjaan berulang setiap harinya. lulusan SD juga bisa melakukannya tanpa harus menjadi sarjana . 

Jika saja para pelajar itu benar-benar memaksimalkan dirinya dalam proses pembelajaran tanpa harus memprioritaskan nilai yang tinggi sebagai acuan kesuksessanya yang akan mengantarkannya pada dunia kerja. Maka tidak akan banyak pelajar yang lulus menjadi pengangguran. Bagi pelajar yang memahami ilmunya dalam pendidikan, ketika lulus mereka akan tahu bagaimana mengaplikasikan ilmu nya dalam menciptakan peluang dunia kerja. 

Jadi mereka tidak begitu kesulitan dalam mecapai kesejahteraan hidup mereka. Namun Pendidikan juga bukan hanya jalan untuk mendapat kesejahteraan hidup setiap individu semata, tidak sesempit itu dalam memaknai pendidikan. Berikut tujuan pendidikan menurut UUD no 20.

Jabaran UUD 1945 tentang pendidikan dituangkan dalam Undang-Undang No.
20, Tahun 2003. Pasal 3 menyebutkan, “Pendidikan nasional berfungsi
mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang
bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk
berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan
bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap,
kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung
jawab.” 

Jadi fungsi pendidikan adalah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa yang nantinya bertujuan untuk membangun Indonesia menjadi negara yang dapat mensejahterakan rakyatnya. Untuk dapat membuat pelajar Indonesia memahami betapa pentingnya proses pendidikan itu tidaklah mudah, dibutuhkan kerjasama dari berbagai kalangan. Yaitu kalangan keluarga, para pengajar dan lembaga lembaga pendidikan. 

Keluarga adalah lingkungan utama yang dapat membentuk karakter dan pandangan seorang pelajar. Di mana orang tua seharusnya memberikan pandangan mengenai pentingnya pendidikan dan mendukung anak dalam perkembangannya. Kemudian para pengajar juga perlu melakukan pendekatan dan dukungan motivasi kepada siswa atau mahasiswanya juga memiliki loyalitas tinggi terhadap dunia pendidikan. Karena pengajar juga salah satu faktor yang dapat meningkatkan kesadaran pelajar terhadap proses pendidikan.Kemudian yang terakhir, Lembaga juga perlu melakukan perbaikan terhadap sistem-sistem pendidikan, seperti kurikulum dsb, juga memberikan pelatihan pada semua pengajar atau guru untuk meningkatkan kualitas setiap guru yang ada di Indonesia 

Jika ketiga hal itu berjalan dengan baik maka pelajar Indonesia dapat dengan maksimal menjalani proses belajar mengajar tanpa memikirkan hasil atau nilai nya terlebih dahulu. Sehingga dapat menghasilkan mahasiswa yang sudah mapan dalam berpikir, dan mahasiswa yang tidak sekedar memikirkan kepentingan akademis semata, namun jauh tersirat dalam benaknya tentang arti dari kualitas hidupnya sebagai pribadi yang mampu mengabdi terhadap masyarakat. Sebagai pribadi yang mampu melihat permasalahan disekitarnya dan menjadi bagian dari penyelesaiannya. Sehingga ia mampu mengerahkan potensi yang dimilikinya dan menjadi bagian penentu arah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Penulis:
Nama : Putri Latifa B. Laulang 
Alamat : Nginden Baru 3 No 1 C 
No Handphone : 0822 3669 5000 
Asal kampus : Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya 
Asal UKM : Fordimapelar Untag Surabaya

Kamis, 01 Juni 2017

Terkikisnya Integritasi Sosial Implikasi dari Media Sosial

Berbicara tentang integritasi sosial berarti berbicara tentang kesatuan seluruh Masyarakat yang ada di Indonesia. Kesatuan yang bulat dan utuh demi untuk terwujudnya Masyarakat yang harmonis dan rukun. Integrasi Sosial di Indonesia kini mulai menunjukkan penurunannya, Kelompok masyarakat satu dengan lainnya seolah kurang memiliki rasa solidaritas, Toleransi dan sudah melupakan nilai – nilai luhur serta norma yang menjadi panutan sejak zaman dulu. Penurunan ini Mungkin dapat disebabkan oleh Kurang Pahamnya Masyarakat Indonesia Tentang isi dan kandungan Pancasila sebagai ideologi negara ini. Lucu memang, Jika mengingat Pancasila selalu diajarkan dari mulai SD sampai Masuk Universitas. Selain hal itu Penurunan nilai Integrasi Sosial juga diakibatkan oleh Perkembangan zaman yang semakin modern yang mempengaruhi masyarakat secara tidak langsung. 

Modernisasi massal telah merambah ke berbagai lini kehidupan masyarakat, baik dikota ataupun di desa. Baik berupa teknologi, tren dan fashion. Modernisasi dibidang teknologi tentu menjadi hal yang sangat dinanti – nantikan oleh masyarakat, yang mana dengan teknologi tersebut akan sangat bermanfaat bagi kehidupan Masyarakat sehari - hari, Meringankan pekerjaan dan menambah wawasan, Namun jika melihat yang terjadi saat ini, sangking merasa dimudahkannya oleh teknologi masyarakat seakan lupa tentang Integritasi Sosial.

Zaman semakin modern. berbagai informasi pun telah mudah didapatkan dengan cepat, namun belum tentu akurat. Masyarakat memang harus dituntut untuk mampu menjadi Pembaca, Pengamat dan Penilai yang kritis tentang isu-isu sosial yang terjadi dalam masyarakat sekarang ini. Karena Isu-isu yang tersebar Belum tentu kebenaran dan jelas pertanggungjawabannya, yang mampu menimbulkan presepsi presepsi ambigu, penyebab terjadinya kesalahpahaman dan berujung bentrok atau pertikaian antar Masyarakat.

Perkembangan teknologi yang paling berperan penting dalam memainkan mindset Masyarakat adalah Teknologi Informasi komunikasi, Sebut saja internet dan Medsos atau media sosial. Media sosial sendiri sebenarnya adalah sebagai wadah masyarakat yang ingin sekedar sharing, mencari teman ataupun tempat bertukar informasi, mengemukakan pendapt atau opini dsb. Disana kita dapat memperoleh berbagai informasi terpopuler dan terupdate dari jagad dunia hiburan ataupun dunia perpolitikan Indonesia.

Media sosial yang dapat digunakan masyarakat untuk menyuarakan aspirasi, opini dan kritik. Positif memang, karena dengan adanya medsos Suara Rakyat akan semakin cepat sampai ke telinga Pemerintah. Penggunanaan teknologi informasi satu ini memang tidak mengenal batas waktu kapan dan dimanapun masyarakat dapat mengakses informasi – informasi yang tersedia. Asyik memang, namun tahukan jika Medsos dapat menyebakan masyarakat Indonesia melupakan nilai - nilai luhur dan integritas sosial dalam kehidupan bermasyarakat. Lewat media sosial Masyarakat yang memiliki kepentingan – kepentingan tertentu dapat memengaruhi Masyarakat secara tidak langsung, mungkin dengan informasi - informasi yang bersifat provokatif dan mengacu pada hal Perpecahan antar warga Masyarakat,

Media sosial telah menciptakan budaya Masyarakat Kekinian, Masyarakat terkini, yang selalu up to date dengan tren-tren yang menyebar, tingkat Narsisme yang tinggi, atau bisa juga disebut masyarakat yang sejalan dengan perkembangan mode atau tren saat itu. Media sosial semestinya menjadi media yang benar – benar sosial, dalam artian berfungsi untuk kebutuhan untuk berkomunikasi secara praktis dan mendapatkan informasi, Lain halnya dengan sekarang, Masyarakat kebanyakan menggunakan Medsos tidak hanya sebagai sarana komunikasi praktis, tapi juga sarana Narsisme. Bahkan beberapa oknum tidak bertanggung jawab melakukan tindakan penipuan atau kriminalitas lewat media sosial.

Melihat tingginya pengguna media sosial baik kalangan remaja, dewasa, bahkan anak – anak yang masih mudah dipengaruhi, Media sosial menjadi lahan yang pas untuk melontarkan isu –isu yang bersifat profokatif, seperti isu politik pada masa pemilihan umum dimana dua kubu atau bahkan lebih saling berlomba demi merebut simpati rakyat dan kepercayaan rakyat. Media sosial ini dijadikan ajang pertandingan atau saling serang menyalahkan pihak – pihak tertentu dengan berita yang masih ambigu. Di kalanga remaja pula, mereka menggunakan media sosial sebagai tempat untuk curhat, melampiaskan amarah dengan kata – kata kasar, yang ditujukan kepada orang - orang tertentu.

Media sosial berpengaruh terhadap perkembangan rasa Nasionalisme Bangsa Indonesia. Berkat Media Sosial ideologi - ideologi asing dapat dengan mudah masuk dan meracuni pikiran masyarakat, Kondisi masyarakat yang lebih menyukai membaca media sosial daipada membaca situasi sosial Akan memungkinkan mudah terpengarunhya mereka untuk merubah tatanan pola kehidupan yang telah dibangun sesuai ideology bangsa. Misalkan saja meniru budaya Asing tentang cara berpakaian ataupun cara bergaul. Hal semacam inilah yang menyebabkan rasa keutuhan masyarakat semakin menipis, Bagaimana mau bersatu kalau Ideologi sendiri saja ditinggalkan.

Banyak masyarakat yang tidak sadar Jika telah membuat suatu informasi baik berupa tulisan, foto atupun video yang menghina ataupun menyalahkan beberapa pihak tertentu dan tidak mengindahkan yang namanya Musyawarah tentu saja perbedaan pendapat bukan lagi menjadi hal yang menarik, Namun menjadi hal yang menakutkan karena sekecil apapun perbedaan itu jika sudah masuk ke media sosial dan ditambahi bumbu bumbu manipulatif , maka akan Menjadi berita besar dan memanas.

Kemanakah NKRI yang dulu, yang terkenal memiliki masyarakat yang berbudi luhur dan memiliki simpati serta empati yang tinggi terhadap sesama, Menjunjung tinggi nilai- nilai Pancasila. Namun dengan adanya media sosial serta pengaruh - pengaruh yang muncul didalamnya yaitu munculnya berita yang telah dimanipulatif dan berujung provokasi serta budaya – budaya asing yang masuk tanpa bisa dicegah. Hal inilah yang sangat disayangkan, Kenapa di zaman yang semakin canggih ini perkembangan teknologi beresiko untuk meruntuhkan kesatuan NKRI.

Mugkin dengan regulasi dari pemerintah diharapkan mampu untuk setidaknya memfilter budaya barat yang masuk ke dalam negeri, Kesadaran masyarakat juga menjadi poin paling penting, Masyarakat sebagai pengendali arus media sosial seharusnya mampu untuk membagikan informasi yang kebenarannya dapat dipertanggungjawabkan dan bagi pembaca juga harus menelaah lebih lanjut, tidak ditelan mentah - mentah dan terprovokasi, Karena Masyarakat Cerdas akan membawa implikasi yang baik bagi Negeri ini.

Minggu, 28 Mei 2017

BUDAYA KITA TERJAJAH

Budaya tidak dapat terpisahkan dari bangsa ini karena budaya telah ada jauh sebelum bangsa ini merdeka. Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa sansekerta yaitu buddhayah, yang berarti budi atau akal yang diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Lahirnya budaya didalam lingkungan masyarakat menyangkut pola hidup secara menyeluruh yang bersifat kompleks abstrak dan luas. Berbicara soal budaya maka kita berbicara tentang jati diri atau identitas kelompok masyarakat yang membentuk karakter, perilaku, kebiasaan, moral, dan mental setiap individu didalamnya. Dalam membangun masyarakat berbudaya telah diwariskan sejak manusia lahir, sehingga banyak orang menganggap budaya telah mendarah daging dalam jiwa setiap manusia, jika budaya rusak maka akan menyebabkan banyak penyimpangan didalam kelompok masyarakat. Dampak dari rusaknya budaya akan sangat berpengaruh terhadap bergesernya nilai-nilai terutama pada generasi muda yang sangat rentan terhadapa perubahan dan pengaruh buruk. 
   Indonesia merupakan bangsa yang majemuk dengan keanekaragaman budaya didalamnya. Budaya memiliki jangkauan yang luas menyangkut berbagai macam aspek yang terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama, pakaian, bangunan, karya seni serta bahasa. Perubahan budaya juga dapat mempengaruhi norma didalam suatu masyarakat, karana dari budayalah norma tercipta sebagai pedoman perilaku untuk melangsungkan kehidupan bersamasama dalam menjalankan interaksi sosial.  Perubahan budaya merupakan sebuah gejala berubahnya struktur sosial yang merupakan sebuah warisan dari generasi ke generasi, kita tidak bisa memungkiri bahwa budaya selalu berkembang sesuai dengan perkembangan zaman yang dipengaruhi oleh perubahan lingkungan, kemajuan zaman, penetrasi, akulturasi, asimilasi, dan sintesis. 
   Kita telah berada dizaman modernisasi yang saya anggap sebagai sebuah zaman perang antar buadaya diamana expansi budaya-budaya yang masuk dalam lingkungan masyarakat bersifat saling mengalahkan dimana budaya yang baru saling bergeser dengan budaya yang telah ada. Salah satu contoh kecil yaitu banyak pada masyarakat terutama genersi muda cenderung meniru gaya luar yang bertentangan dengan norma. Kita harus pintar memilih mana yang sesuai dengan norma yang berlaku. Bukan berarti kita anti terhadap budaya luar, tetapi mengikuti  perkembangan zaman bukan berarti melupakan budaya dan norma yang mengandung nilai-nilai yang mebentuk jati diri. Norma merupakan benteng pelindung moral dalam kehidupan sosial budaya dimasyarakat. Budaya asing yang masuk banyak bertentangan dengan norma yang merusak moral. Pengaruh budaya asing tidak hanya mempengaruhi norma tapi juga sangat mepengaruhi perekonomian bangsa ini yang justru sangat menguntungkan pihak asing. Karena jika budaya asing melekat dalam benak generasi muda, maka mereka akan cenderung meremehkan budaya sendiri, sehingga menjadi sangat konsumtif karena ingin meniru budaya luar yang dianggap sebagai gaya hidup.
   Di era reformasi saat ini kebebasan telah merambah keberbagai lini kehidupan masyarakat yang memiliki ikatan atau aturan sejak lama. Saat ini tidak dapat dipungkiri telah banyak perubahan yang terjadi pada era reformasi ini. Perubahan budaya yang berdamapak pada bergesernya nilai-nilai norma yang rentan terhadap rekradasi moral para generasi muda penerus bangsa ini. Hal ini sanagat wajar karena perkembangan teknologi dan informasi pada era globalisasi sangat signifikan dengan perkembangan jiwa generasi muda, kemajuan dunia globalisasi yang semakin menantang generasi muda tentunya harus dimimbangi dengan penguatan nilai-nilai budaya yang bersifat ajaran moral yang terkandung didalam norma yang berlaku didalam lingkungan masyarakat. Rusaknya budaya  merupakan sumber rusaknya moral, moralitas generasi penerus bangsa sekarang ini menurut beberapa penelitian para pakar psikologi sudah sangat memperihatinkan, karena 75% dari generasi muda indonesia sudah terjebak dalam kehidupan bebas. Salah satu penyebab utamanya yaitu pengaruh budaya asing, budaya asing seakan-akan membaur dengan budaya asli, sehingga tidak disadari bahawa ini adalah serangan terhadapa budaya kita. Budaya luar masuk secara halus dan perlahan sehingga kedatangannya tidak disadari dampak buruknya dan sasaran yang sangat mudah terpengaruh adalah generasi muda.    
    Kita tidak menyadari bahwa budayaa kita telah terjajah. Penjajahan adalah dimana bangsa luar mengambil alih bangsa lain dan menjadikan bangsa itu sebagai penghasilan negara yang menjajahnya. Penjajahan saat ini telah menjadi banyak bentuk bahkan tanpa kita sadari, dalam bidang ekonomi dan budaya.  Secara tidak langsung secara budaya perlahan-lahan semakin diambil alih hingga kita tidak menjadi diri kita sendiri yaitu ekonomi yang dikuasai, jati diri yang hilang, perilaku dan sikap yang sudah tidak sesuai dengan apa yang diajarkan oleh norma yang berlaku dimasyarakat. Penjajahan budaya tidak bisa disangkal lagi karena saat ini apa yang ada disekitar lingkungan kita banyak yang berasal budaya asing. Jika budaya kita terjajah hingga budaya asing mendominasi budaya asli, maka semakin lama kita cenderung meninggalkan dan melupakan budaya kita sendiri. Bagaimana jika budaya asing yang masuk justru merusak moral generasi muda penerus bangsa ini. Apa yang akan terjadi jika para generasi muda yang menjadi penerus bangsa ini justru menjadi pengrusak bangsa.
   Ketika kita melupakan jati diri bangsa dan tidak menjadi diri sendiri lalu kita cenderung terhadapa budaya asing. Maka negara-negara asing yang memiliki banyak kepentingan di negara kita akan mendapat banyak keuntungan dari bergesernya budaya kita yang cenderung mengikuti budaya asing, lalu kita akan menjadi masyarakat yang konsumtif sehingga sangat yang justru sangat merugikan kita. Jika penerus harapan bangsa yang berada ditangan generasi muda tidak mengenal budaya sendiri menjadi tidak bermoral maka kita akan sangat mudah dikendalikan pihak asing. 
  Bagi pihak asing yang memiliki kepentingan sangat mudah untuk melakukan semua itu, karena melihat generasi kita yang mudah terpengaruh karena kita tidak menjadikan budaya sebagai pondasi jati diri yang kokoh dalam menghadapi tantangan global. Namun hal tersebut dapat kita cegah dengan meperkuat pondasi bangsa, yaitu budaya asli yang mengandung norma-norma ditanamkan dalam jiwa generasi muda bahkan sedari diini diajarkan untuk mencintai budaya sendiri. Dengan melestarikan setiap aspek budaya maka pondasi bangsa kita tetap kokoh.
   Buadaya asing memang tidak seluruhnya negatif, ada juga yang bisa dijadikan pelajaran. Kita bisa belajar dari bagaimana mereka mencintai budaya sendiri, sehingga diera globalisasi saat ini budaya mereka tetap bertahan. Sehingga budaya mereka yang dipertahankan dan mengikuti perkembangan zaman dapat menjadi tren diberbagai negara. Dimasa yang serba cepat ini, kita harus pintar memilih mana yang baik dan yang buruk. Semua tergantung bagaimana kita menyaring informasi-informasi yang kita peroleh. Peran orangtua, lingkungan masyarakat, pendidikan, bahkan pemerintah sangatlah penting dalam memperkuat pondasi budaya bangsa ini terutama generasi muda penerus bangsa. Karena ketika generasi muda kehilangan jati diri maka bangsa ini kedepannya akan seperti apa rusaknya, akan jauh berbeda dengan generasi sebelumnya dimana kita tidak menjadi diri sendiri dengan budaya yang jauh berbeda. Sangatlah penting untuk menjaga keaslian budaya kita, karena dengan begitu moral para penerus bangsa tetap terjaga dimasa yang akan datang.
Ditulis oleh : Rial Hadi Rahmawan

Sabtu, 27 Mei 2017

Dies Natalis 26





Unit Kegiatan Mahasiswa Forum Diskusi Mahasiswa Penalaran, Penelitian, Penerbitan kampus atau biasa disebut UKM Fordimapelar berdiri pada tahun 1991. Tahun ini, UKM Fordimapelar telah mencapai umur 26. Umur yang cukup dewasa. Sebagai rasa syukur dan mengumpulkan kembali keluarga besar UKM Fordimapelar, pengurus periode 2017 membuat perayaan dies natalis yang bertema "One Spirit to Solidarity and Educate the Fellows" dengan dua serangkain acara yaitu:
1. Bakti sosial bersama anak yatim piatu
2. Temu keluarga UKM Fordimapelar

Dalam bakti sosial, kami berbagi rezeki dan memberikan sedikit motivasi kepada teman - teman di panti asuhan. Sedangkan temu keluarga UKM Fordimapelar akan diadakan di hari kedua di Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya untuk merekatkan kembali rasa kekeluargaan antar pembina, alumni, anggota, dan pengurus UKM Fordimapelar. Jangan lupa nantikan informasi selanjutnya tentang Dies Natalis 26!!!

Contact person: 087702474579 (Intan)
Instagram         : ukmfordimapelar
Line ID            : @gqo2687f
Facebook         : Fordimapelar Untag Surabaya

Jumat, 21 April 2017

UNGKAPAN KEBAHAGIAAN SEORANG WANITA

     Mentari fajar lukisan sang gusti pangeran
menyapa pagi erni untuk melakukan aktivas yang penuh ceria ini.
Terasa udara segar serta bila  menengok keatas nampak awan lembut seputih kapas menyambutnya untuk mulai petualangan yang ditunggunya berhari-hari.
Begitu banyak petualangan erni dalam sehari ini. Keceriaan, kedukaan, pengabdian, kegemaran dan keindahan merupakan potret diri yang telah menyatu dalam perasaan erni.

         Tidak semua orang akan mendapatkan kebahagiaan yang selalu didapatnya ini.
Karna baginya bentuk syukur adalah menikmati setiap jengkalan udara serta germicik suara air, didesa sawo perbatasan negeri sofie ini.
 Banyak panorama alam yang ditemuinya terasa membawanya ke negeri kayangan.
 Indahnya ciptaan penguasa alam raya ini membuat bulu kudunya berdiri lantaran tak kuasa takjub akan ciptaannya yang selalu maha karya asli seni yang sangat fantastik.

         Erni yang tak bisa jauh dengan kamera ponselnya selalu menjadi seorang wanita inspiratif karna berbagai karyanya sangat mengandung seni.
Menikmati seni potret atau bahkan seni suara merupakan suatu kebahagiaan yang menjiwai.
Banyak dari ungkapan kebahagai
aan tersebut ia tuangkan pada tulisan cantik serta pada karya teater yang mampu membuat yang melihatnya gemas.

Gemas lantaran sangat menikmati karyanya yang indah. Bagi wanita cantik dan lembut ini, petualangan erni adalah seni dalam suatu media penyampaian kebahagiaaan agar dapat dinikmati.

          Karna itu ia memilih petualanganya di desa sawo diperbatasan negeri sofie itu  yang penuh dengan rahasia dan tak akan pernah terungkap oleh  siapapun selain petualangan erni dan masyarakat negeri sofie didalamnya.


oleh : R.A Pratiwi