Rabu, 07 Juni 2017

Gila Ijazah & Tamak Nilai : Pelajar Masa Kini


“nomor 3,4,5 jawabannya apa? ,
Sudah ngerjain tugas belum? Minta dong, 
Sudah ngerjain makalah? Boleh copas gak?
 Yang penting lulus, dapat ijazah” 

Dialog di atas adalah potret pelajar masa kini. Fenomena pelajar tersebut telah mejadi budaya pada dunia pendidikan. Ironisnya, pelajar menganggap bahwa nilai dan ijazah adalah tujuan utama pendidikan. Jika seperti itu apakah ini yang disebut pendidikan telah kehilangan maknanya? 

Pelajar sekarang memandang nilai bagus atau IPK tinggi adalah hal yang harus di prioritaskan agar diakui kemampuan dan keberadaanya di linkungan keluarga maupun masyarakat, Padahal belum tentu seseorang yang memiliki nilai tinggi itu memiliki ilmu yang tinggi pula. Bisa jadi orang yang IPK nya pas-pasan lebih mumpuni ilmunya dari pada orang yang IPK nya tinggi. 

Ada si bodoh dengan IPK tinggi dan si Pandai dengan IPK pas-pasan. Itu semua erat kaitannya dengan adanya "Proses" dan "Hasil". Dewasa ini terkadang ada juga Guru atau Dosen yang hanya mementingkan "hasil" dari belajar mengajar, ketimbang "proses" selama belajar mengajar. Hal ini dapat memicu terjadinya berbagai kecurangan yang dilakukan pelajar dalam mendapatkan nilai. Pelajar akan melakukan apapun agar mendapat nilai yang maksimal. 

Mencontek ketika ujian, mengambil hasil kerja tugas teman tanpa mau mengerjakan dan sebagainya. Tidak peduli halal atau haram, baik atau buruk . Tuntutan Nilai atau IPK yang bagus, untuk bisa berkompetisi di dunia kerja, merupakan salah satu faktor mahasiswa tamak akan nilai yang tinggi. Padahal IPK yang tinggi juga membutuhkan tanggung jawab yang besar pula dari si empunya. Bayangkan, jika Si Bodoh dengan IPK tinggi masuk di sebuah perusahaan karena prestasi akademik yang tertulis di dalam transkip nilai, kemudian ketika bekerja ia tidak bisa banyak melakukan pekerjaan yang diamanahkan kepadanya, Sungguh hal yang memalukan bukan? 

Inilah sedikit potret pandangan pelajar Indonesia yang membuktikan bahwa nilai ijazah tidak menandakan kualitas pelajar. Ketamakan nilai dan gila ijazah para pelajar kini membuat fungsi dan tujuan pendidikan tidak lagi berjalan dengan semestinya. Di mana seharusnya Pendidikan untuk memberikan suatu pengajaran dengan ilmu pengetahuan untuk membentuk karakter bangsa yang takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, serta mencetak karakter, kreatifitas dan kecerdasan anak sejak dini, namun kenyataannya pendidikan sekarang hanyalah jalan untuk mendapat Ijazah dengan nilai memuaskan sebagai golden ticket untuk memasuki dunia kerja untuk menjadi pekerja dan meraih jabatan sehingga kesejahteraan hidup pun terjamin. 

Dari data yang dikeluarkan BPS pada bulan Februari 2015. Bahwa sebanyak 400 ribu pemuda Indonesia yang bertitel sarjana menjadi pengangguran. Sangat disayangkan melihat fenomena pelajar zaman sekarang yang seperti ini. Ekspetasi awal yang menggebu-gebu ingin mendapatkan pekerjaan yang layak, tidak sesuai dengan kenyataan yang terjadi setelah mereka lulus. Bingung, pontang panting mencari pekerjaan, berusaha memantaskan diri menjadi para pekerja, menjadi para pesuruh. Dan akhirnya pasrah, apapun pekerjaannya selagi halal akan mereka lakukan. 

Lalu, bagaimana dengan ilmu pengetahuan yang mereka dapatkan selama empat tahun di bangku perkuliahan? Kalau akhirnya hanya menjadi seorang pekerja yang melakukan pekerjaan berulang setiap harinya. lulusan SD juga bisa melakukannya tanpa harus menjadi sarjana . 

Jika saja para pelajar itu benar-benar memaksimalkan dirinya dalam proses pembelajaran tanpa harus memprioritaskan nilai yang tinggi sebagai acuan kesuksessanya yang akan mengantarkannya pada dunia kerja. Maka tidak akan banyak pelajar yang lulus menjadi pengangguran. Bagi pelajar yang memahami ilmunya dalam pendidikan, ketika lulus mereka akan tahu bagaimana mengaplikasikan ilmu nya dalam menciptakan peluang dunia kerja. 

Jadi mereka tidak begitu kesulitan dalam mecapai kesejahteraan hidup mereka. Namun Pendidikan juga bukan hanya jalan untuk mendapat kesejahteraan hidup setiap individu semata, tidak sesempit itu dalam memaknai pendidikan. Berikut tujuan pendidikan menurut UUD no 20.

Jabaran UUD 1945 tentang pendidikan dituangkan dalam Undang-Undang No.
20, Tahun 2003. Pasal 3 menyebutkan, “Pendidikan nasional berfungsi
mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang
bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk
berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan
bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap,
kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung
jawab.” 

Jadi fungsi pendidikan adalah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa yang nantinya bertujuan untuk membangun Indonesia menjadi negara yang dapat mensejahterakan rakyatnya. Untuk dapat membuat pelajar Indonesia memahami betapa pentingnya proses pendidikan itu tidaklah mudah, dibutuhkan kerjasama dari berbagai kalangan. Yaitu kalangan keluarga, para pengajar dan lembaga lembaga pendidikan. 

Keluarga adalah lingkungan utama yang dapat membentuk karakter dan pandangan seorang pelajar. Di mana orang tua seharusnya memberikan pandangan mengenai pentingnya pendidikan dan mendukung anak dalam perkembangannya. Kemudian para pengajar juga perlu melakukan pendekatan dan dukungan motivasi kepada siswa atau mahasiswanya juga memiliki loyalitas tinggi terhadap dunia pendidikan. Karena pengajar juga salah satu faktor yang dapat meningkatkan kesadaran pelajar terhadap proses pendidikan.Kemudian yang terakhir, Lembaga juga perlu melakukan perbaikan terhadap sistem-sistem pendidikan, seperti kurikulum dsb, juga memberikan pelatihan pada semua pengajar atau guru untuk meningkatkan kualitas setiap guru yang ada di Indonesia 

Jika ketiga hal itu berjalan dengan baik maka pelajar Indonesia dapat dengan maksimal menjalani proses belajar mengajar tanpa memikirkan hasil atau nilai nya terlebih dahulu. Sehingga dapat menghasilkan mahasiswa yang sudah mapan dalam berpikir, dan mahasiswa yang tidak sekedar memikirkan kepentingan akademis semata, namun jauh tersirat dalam benaknya tentang arti dari kualitas hidupnya sebagai pribadi yang mampu mengabdi terhadap masyarakat. Sebagai pribadi yang mampu melihat permasalahan disekitarnya dan menjadi bagian dari penyelesaiannya. Sehingga ia mampu mengerahkan potensi yang dimilikinya dan menjadi bagian penentu arah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Penulis:
Nama : Putri Latifa B. Laulang 
Alamat : Nginden Baru 3 No 1 C 
No Handphone : 0822 3669 5000 
Asal kampus : Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya 
Asal UKM : Fordimapelar Untag Surabaya

0 komentar:

Posting Komentar