Kamis, 08 Juni 2017

DINAMIKA DAN DIALEKTIKA PERKEMBANGAN GENERASI


sejarah kehidupan dan peradapan telah melahirkan generasi yang beragam. Masing-masing generasi memiliki keunikan dan kompleksitasnya sendiri-sendiri. demikian terjadi karena adanya batasan-batasan segmentasi setiap generasi. adapun keberagaman, keunikan disetiap generasi telah melahirkan pembaruan pola pikir dan pola sikap. pada gilirannya akan menjadi kebiasaan dilingkup masyarakat, maka dapat diartikan hal ini sebagai fenomena kebudayaan. Adapun Sebuah fakta menarik dalam perkembangan dunia Human Capital saat itu dan sekarang, yaitu munculnya Generasi X, Generasi Y serta Generasi Z yang kini mulai berkembang dan menjadi gaya hidup masyarakat dunia begitupun dindonesia. Gaya hidup seorang manusia biasa menjadi tidak biasa, yang tidak biasa menjadi luar biasa, semua itu terjadi dari pola pikir manusia. Generasi yang berkembang saat ini, tellah mengalami degradasi nilai humanity, generasi yang biasa disebut sebagai generasi Z, dengan ciri-ciri sebagai generasi yang ingin mencapai sesuatu tanpa sebuah proses (besifat instan), serta dalam besikap lebih mementingkan individualistik untuk suatu kepuasan yang disebut eksistensi. 

Pasca perang dunia kedua, yang berakhir sekitar abad ke 20, saat itulah mulai munculnya teori generasi ( generation theory ) oleh seorang pemikir bernama Strauss-Howe, teori ini mempelajari berbagai jenis karakter dari generasi X, Y menjadi Z. Strauss-howe memfokuskan pengamatannya pada Segala sesuatu terutama berhubungan dengan kebiasaan manusia dalam beraktivitas, sehingga ada kaitannya dengan ciri-ciri dari setiap generasi tersebut. setiap generasi-generasi yang muncul dapat menularkan berbagai luaran namun terkadang ada baik serta buruknya, Seperti halnya generasi X yang muncul pada saat tahun 1965-1980, generasi inilah penyebab lahirnya sebuah tokoh perubahan yang disebut teknologi serta generasi yang berani mendobrak nilai-nilai tradisional yang sebelumnya mereka anggap kolot. Mereka mengalami perkembangan dalam segala sesuatunya seperti adanya video musik, new wave, musik elektronik, musik heavy metal dan jenis musik rock. karakteristik generasi X juga dikenal sebagai generasi mandiri dan mudah beradaptasi, mereka memiliki pendidikan tinggi, aktif, mejalankan hidup yang seimbang, bahagia dan berorientasi pada keluarga. dalam dunia pekerjaan pun sangat memberikan kontribusi yang baik di tempat kerja, dengan pekerjanya yang sangat kompeten dan bisa diandalkan. Dilain sisi dari generasi X yang begitu banyak memberikan manfaatnya, generasi X tanpa sadar sudah mulai meracuni pola pikir serta tingkah laku manusia, membuat manusia berubah dalam perilakunya, seperti gaya berpakaian, kebiasaan mentato serta mentindih sebagian dari tubuhnya, menjabrik potongan rambut persis dengan idolanya, Namun masih sebatas kelompok masyarakat di zona perkotaan saja, hal yang paling fundamental adalah temuan-temuan teknologi, yang kelak berkembang menjadi sebuah alat – alat industrialis baru, serta semakin menambah kerakusaan umat manusia untuk mengapai dunia dengan tangannya. Kelak wariasan penemuan dan pengetahuan dibidang teknologi ini dilanjutkan oleh generasi-selanjutnya, yang kemudian diberi nama generasi Y. Genarasi Y memiliki peran yang cukup strategis dan visioner, sebab digenarasi Y ini lah, temuan-temuan pengetahuan dan teknologi semakin berkembang pesat. Sebagai generasi yang memiliki tugas untuk melanjutkan temuan-temuan dari genarasi X yang masih belum terselesaikan dalam mewujudkan suatu tatanan kehidupan yang lebih baik dan lebih memudahkan umat manusia dalam beraktifitas. 

Generasi Y dengan segala inovasi dan kreatifitasnya, telah melahirkan satu penemuan terbarukan dalam bidang pengetahuan dan teknologi. Adapun subangsih generasi Y antara lain dalam dunia teknologi, dengan ditemukannya telfon, internet, Handphone dsb. Karakteristik generasi Y adalah generasi yang memiliki inovasi dan kreatifitas serta ketekunan yang luar biasa dalam melakukan sesuatu untuk mencapai tujuan. Sumbangsi penemuan generasi Y sangat membantu kehidupan dalam bermasyarakat, atau biasa dikatakan sumbangsi generasi Y telah mampu mewujudkan cita-cita “kehidupan yang mampu menjangkau kehidupan yang luas melebihi wilayah dan batas teritorial, yang membawa kehidupan lebih praktis” namun sumbangsi dari inovasi dan kreatifitas yang begitu diagung-agungkan dimasanya, telah menuai titik lemah, yakni ketika kehidupan yang diimpikan para generasi sebelumnya telah tercapai, yakni kehidupan yang mudah dan praktis, menjadi mala-petaka bagi genrasi selanjutnya yang dikenal sebagai generasi Z, atau bisa dikatakan sebagai generasi terakhir. 

Generasi Z, bisa dikatakan sebagai generasi yang beruntung dan juga buntung, sebab dengan segala perkembangan kondisi dan situasi perkembangan pengetahuan dan teknologi yang telah diwariskan oleh generasi seblumnya, telah membawa kemudahan-kemudahan tersendiri, namun dengan segala kemudahan yang telah dinikmati, dan mudah dijumpai ini membawa kepada jurang kehancuran dan menjadi malapetaka tersendiri. Dengan adanya teknologi modern ini, generasi Z memiliki kemudahan untuk mencapai tujuan dengan cepat, dan mudah. Dengan segala kemudahan yang telah dinikmati, tidak membawa kemajuan yang cukup signifikan dalam berkehidupan, justru sebaliknya kemudahan-kemudahan yang telah dinimkati, menjadikan generasi Z, ketergantungan pada teknologi. Dalam bersikap generasi Z telah kehilanganjati dirinya atau jiwanya sebagai human “manusia”, ketergantungan teknologi yang semakin hari-semakin memabukan dirinya, generasi Z mulai hidup di antara dua dunia, dan mulai kehilangan dunia realitas, dan mualai terjerum dalam dunia hyper-rialitas. Kecanduan teknologi ini, kelak akan mempengaruhi sikap dari generasi Z. Sikap Generasi Z dalam lingkunagan yang pertama akan bersikap lebih pasif dalam lingkungan rialitas, dan cenderung riaksioner dalam lingkungan hyper-realitas, kecenderungan kedua mudah menyerah dan prustasi dalam berusaha, kecenderungan yang ke tiga akan lebih praktis dan menjahui proses dalam melakukan sesuatu. 

Melihat perkembangan dialektika perkembangan generasi, telah mencapai pada titik yang teramat kritis, degradasi nilai kemanusian yang begitu nampak didepan mata kita, hilangnya kepribadian didalam diri kita, hilangnya nilai sosial serta hilangnya control diri dalam diri kita. Perkembangan generasi dan pengetahuan serta teknologi tidak membawa kita pada kehidupan yang lebih baik, malah menghancurkan kita. Di zaman ini, Jika kita hitung, berapa lama kita menjadi diri kita sendiri? Maka hanya 2-3 jam kita menjadi diri kita, bahkan mungkin kita tidak pernah menjadi diri kita, sebab kesadaran kita tergantung pada teknologi dan informasi yang diinjeksi dari luar diri kita. Maka dapat dipastikan kehidupan generasi kita telah mati dari dirinya sendiri. Dan kita akan hidup tanpa kesadaran dan hanya hidup outomatis oleh prangkat-prangkat yang ada disekeliling 


penulis: Asep Aan Ardiana

0 komentar:

Posting Komentar