sejarah kehidupan dan peradapan telah melahirkan generasi yang beragam.
Masing-masing generasi memiliki keunikan dan kompleksitasnya sendiri-sendiri.
demikian terjadi karena adanya batasan-batasan segmentasi setiap generasi. adapun
keberagaman, keunikan disetiap generasi telah melahirkan pembaruan pola pikir
dan pola sikap. pada gilirannya akan menjadi kebiasaan dilingkup masyarakat,
maka dapat diartikan hal ini sebagai fenomena kebudayaan. Adapun Sebuah fakta
menarik dalam perkembangan dunia Human Capital saat itu dan sekarang, yaitu
munculnya Generasi X, Generasi Y serta Generasi Z yang kini mulai berkembang
dan menjadi gaya hidup masyarakat dunia begitupun dindonesia. Gaya hidup
seorang manusia biasa menjadi tidak biasa, yang tidak biasa menjadi luar biasa,
semua itu terjadi dari pola pikir manusia. Generasi yang berkembang saat ini, tellah
mengalami degradasi nilai humanity, generasi yang biasa disebut sebagai generasi
Z, dengan ciri-ciri sebagai generasi yang ingin mencapai sesuatu tanpa sebuah
proses (besifat instan), serta dalam besikap lebih mementingkan individualistik
untuk suatu kepuasan yang disebut eksistensi.
Pasca perang dunia kedua, yang berakhir sekitar abad ke 20, saat itulah
mulai munculnya teori generasi ( generation theory ) oleh seorang pemikir bernama Strauss-Howe, teori ini mempelajari berbagai jenis karakter dari generasi X, Y
menjadi Z. Strauss-howe memfokuskan pengamatannya pada Segala sesuatu
terutama berhubungan dengan kebiasaan manusia dalam beraktivitas, sehingga ada
kaitannya dengan ciri-ciri dari setiap generasi tersebut. setiap generasi-generasi
yang muncul dapat menularkan berbagai luaran namun terkadang ada baik serta
buruknya, Seperti halnya generasi X yang muncul pada saat tahun 1965-1980,
generasi inilah penyebab lahirnya sebuah tokoh perubahan yang disebut teknologi
serta generasi yang berani mendobrak nilai-nilai tradisional yang sebelumnya
mereka anggap kolot. Mereka mengalami perkembangan dalam segala sesuatunya
seperti adanya video musik, new wave, musik elektronik, musik heavy metal dan
jenis musik rock. karakteristik generasi X juga dikenal sebagai generasi mandiri
dan mudah beradaptasi, mereka memiliki pendidikan tinggi, aktif, mejalankan
hidup yang seimbang, bahagia dan berorientasi pada keluarga. dalam dunia
pekerjaan pun sangat memberikan kontribusi yang baik di tempat kerja, dengan
pekerjanya yang sangat kompeten dan bisa diandalkan. Dilain sisi dari generasi X
yang begitu banyak memberikan manfaatnya, generasi X tanpa sadar sudah mulai
meracuni pola pikir serta tingkah laku manusia, membuat manusia berubah dalam
perilakunya, seperti gaya berpakaian, kebiasaan mentato serta mentindih sebagian
dari tubuhnya, menjabrik potongan rambut persis dengan idolanya, Namun masih
sebatas kelompok masyarakat di zona perkotaan saja, hal yang paling fundamental
adalah temuan-temuan teknologi, yang kelak berkembang menjadi sebuah alat –
alat industrialis baru, serta semakin menambah kerakusaan umat manusia untuk
mengapai dunia dengan tangannya. Kelak wariasan penemuan dan pengetahuan
dibidang teknologi ini dilanjutkan oleh generasi-selanjutnya, yang kemudian diberi
nama generasi Y.
Genarasi Y memiliki peran yang cukup strategis dan visioner, sebab
digenarasi Y ini lah, temuan-temuan pengetahuan dan teknologi semakin
berkembang pesat. Sebagai generasi yang memiliki tugas untuk melanjutkan
temuan-temuan dari genarasi X yang masih belum terselesaikan dalam
mewujudkan suatu tatanan kehidupan yang lebih baik dan lebih memudahkan umat
manusia dalam beraktifitas.
Generasi Y dengan segala inovasi dan kreatifitasnya,
telah melahirkan satu penemuan terbarukan dalam bidang pengetahuan dan
teknologi. Adapun subangsih generasi Y antara lain dalam dunia teknologi, dengan
ditemukannya telfon, internet, Handphone dsb. Karakteristik generasi Y adalah
generasi yang memiliki inovasi dan kreatifitas serta ketekunan yang luar biasa
dalam melakukan sesuatu untuk mencapai tujuan. Sumbangsi penemuan generasi
Y sangat membantu kehidupan dalam bermasyarakat, atau biasa dikatakan
sumbangsi generasi Y telah mampu mewujudkan cita-cita “kehidupan yang mampu
menjangkau kehidupan yang luas melebihi wilayah dan batas teritorial, yang
membawa kehidupan lebih praktis” namun sumbangsi dari inovasi dan kreatifitas
yang begitu diagung-agungkan dimasanya, telah menuai titik lemah, yakni ketika
kehidupan yang diimpikan para generasi sebelumnya telah tercapai, yakni
kehidupan yang mudah dan praktis, menjadi mala-petaka bagi genrasi selanjutnya
yang dikenal sebagai generasi Z, atau bisa dikatakan sebagai generasi terakhir.
Generasi Z, bisa dikatakan sebagai generasi yang beruntung dan juga
buntung, sebab dengan segala perkembangan kondisi dan situasi perkembangan
pengetahuan dan teknologi yang telah diwariskan oleh generasi seblumnya, telah
membawa kemudahan-kemudahan tersendiri, namun dengan segala kemudahan
yang telah dinikmati, dan mudah dijumpai ini membawa kepada jurang kehancuran
dan menjadi malapetaka tersendiri. Dengan adanya teknologi modern ini, generasi
Z memiliki kemudahan untuk mencapai tujuan dengan cepat, dan mudah. Dengan
segala kemudahan yang telah dinikmati, tidak membawa kemajuan yang cukup
signifikan dalam berkehidupan, justru sebaliknya kemudahan-kemudahan yang
telah dinimkati, menjadikan generasi Z, ketergantungan pada teknologi. Dalam
bersikap generasi Z telah kehilanganjati dirinya atau jiwanya sebagai human
“manusia”, ketergantungan teknologi yang semakin hari-semakin memabukan
dirinya, generasi Z mulai hidup di antara dua dunia, dan mulai kehilangan dunia
realitas, dan mualai terjerum dalam dunia hyper-rialitas. Kecanduan teknologi ini,
kelak akan mempengaruhi sikap dari generasi Z. Sikap Generasi Z dalam
lingkunagan yang pertama akan bersikap lebih pasif dalam lingkungan rialitas, dan
cenderung riaksioner dalam lingkungan hyper-realitas, kecenderungan kedua
mudah menyerah dan prustasi dalam berusaha, kecenderungan yang ke tiga akan
lebih praktis dan menjahui proses dalam melakukan sesuatu.
Melihat perkembangan dialektika perkembangan generasi, telah mencapai
pada titik yang teramat kritis, degradasi nilai kemanusian yang begitu nampak
didepan mata kita, hilangnya kepribadian didalam diri kita, hilangnya nilai sosial
serta hilangnya control diri dalam diri kita. Perkembangan generasi dan
pengetahuan serta teknologi tidak membawa kita pada kehidupan yang lebih baik,
malah menghancurkan kita. Di zaman ini, Jika kita hitung, berapa lama kita menjadi
diri kita sendiri? Maka hanya 2-3 jam kita menjadi diri kita, bahkan mungkin kita
tidak pernah menjadi diri kita, sebab kesadaran kita tergantung pada teknologi dan
informasi yang diinjeksi dari luar diri kita. Maka dapat dipastikan kehidupan
generasi kita telah mati dari dirinya sendiri. Dan kita akan hidup tanpa kesadaran
dan hanya hidup outomatis oleh prangkat-prangkat yang ada disekeliling
penulis: Asep Aan Ardiana