Jumat, 23 Juni 2017

Dead Poet Society


Review Film
Judul : Dead Poet Society
Sutradara : Peter Weir
Penulis Skenario : Tom Schulman
Pemain : Robin Williams, Robert Sean Leonard, Ethan Hawke, Josh Carles.
Tahun : 2 Juni 1989
Asal : Amerika Serikat

Sinopsis :
Kisah ini bermula dari 7 siswa yang bersekolah di Akademi Welton, yakni salah satu sekolah elite yang ada di Amerika Serikat. Mereka adalah Neil, Todd, Knox, Charlie, Richard, Steven, dan Gerard. Mereka merasakan ketidak nyamanan ketika bersekolah di sana, karena peraturan yang ketat dan kolot. Hingga suatu hari mereka bertemu dan dididik oleh seorang guru yang berbeda, nyentrik, bahkan unik pemikirannya. Beliau adalah Mr. John Keating. Beliau mengajar Sastra Inggris dan metode pengajarannya pun unik beda dari guru – guru lain yang terasa membosankan dan kolot. Dan karena itu, pemikiran mereka mengenai ilmu pengetahuan pun berubah. Suatu hari, Neil dan teman – temannya menemukan buku tua, buku tersebut berisi salah satu profil guru sastra Inggris mereka, yup Mr John Keating pernah memiliki club rahasia yang diberi nama Dead Poet Society, di mana anggotanya menyukai dan gemar membaca puisi, serta memiliki sudut pandang yang berbeda akan suatu hal. Karena hal ini, Neil dan teman – teman memiliki ide untuk membentuk sebuah klub yang sama.

Review :


Yup, film ini memang film lama. Keluaran tahun 89, tapi jangan salah. Film ini termasuk salah satu film terbaik. This movie is old but gold! Semua orang, khususnya seseorang yang berprofesi sebagai guru maupun tenaga pengajar seperti dosen. Film ini banyak mengandung pesan moral mengenai pendidikan, mimpi, dan bakat seseorang. Lewat film ini, kita bisa melihat bahwa sang suradara menyindir pemikiran kuno dan kolot pada masanya. Dengan jargon yang khas, yakni Carpe Diem (seize the day = gapai hari) penonton akan bisa merasakan bahwa pendidikan pada masa tersebut sangatlah ketat dan kolot. Sosok Keating sebagai guru sastra Inggris mengajarkan murid – muridnya untuk mengetahui bagaimana cara kita menikmati hidup, mencintai hidup, mencintai diri sendiri, mengejar mimpi kita dan bagaimana kita menjalani hidup kita sesuai dengan passion, karena hal itu yang menjadikan kita “hidup” dan mencintai hidup kita. Tidak hanya itu, film ini juga mengajarkan kita pentingnya kita memiliki mimpi, film ini juga mengajarkan arti pertemanan. Dan saya juga memimpikan, bahwa suatu hari saya bisa menemukan sosok guru seperti Mr. Keating dengan pemikirannya revolusioner.


Minggu, 11 Juni 2017

Refleksi Perayaan Dies Natalies UKM Fordimapelar UNTAG Surabaya

      Sabtu, 10 Juni 2017 kami merayakan hari jadi UKM Fordimapelar yang ke-26. Acara tersebut terbilang sederhana namun juga berkesan. Saya sebagai anggota Fordimapelar angkatan 2016 tidak bisa mengikuti kegiatan acara sampai selesai karena harus pulang mendahului teman – teman yang lain. Pertama, acara dibuka dengan sambutan dari pembina UKM Fordimapelar, Prof. Dr. Arif Darmawan, SU. Dan tak lupa alumni UKM Fordimapelar juga memberikan sambutan, mas Izul namanya. Beliau angkatan 2001. Beliau menceritakan sepak terjang yang luar biasa di UKM Fordimapelar. Beliau hebat, saya dibuat terpukau oleh pengalaman yang ia dapat di Fordimapelar Lalu, kemudian berlanjut dengan kegiatan doa bersama, selanjutnya melakukan pemotongan tumpeng yang dilakukan bersamaan dengan kegiatan buka bersama. Acara tersebut didatangi dengan alumni, anggota, dan pengurus UKM Fordimapelar periode 2016-2017. 

Setelah buka bersama, acara berlanjut dengan diadakannya sholat tarawih dan masuk kepada puncak acara, yaitu malam gempar. Malam gempar berisi di mana demisioner UKM Fordimapelar berbagi pengalaman – pengalamannya selama ada di Fordimapelar. Malam itu, demisioner yang akrab disapa mas Adit membagikan penglamannya selama ia ada di Fordimapelar. Mas Adit adalah alumni angkatan 2011. Ada perkataan mas Adit yang cukup menohok, seperti “Tujuan kalian apa di Fordi? Di Fordi nggak ada yang enak. Apa jangan – jangan kalian cuma patung yang menemani patungnya Fordi? Apa jangan – jangan kalian nggak “kanggo” (berguna)? Kalau kalian nggak niat, mending kalian keluar mulai dari sekarang!” begitulah lebih kurang perkataan mas Adit pada malam tersebut. Pada saat itu, saya tidak berani mengacungkan tangan, karena saya adalah tipikal orang yang tidak bisa speak up di depan umum. Maka dari itu saya menyimpan kata – kata saya. Perkataan dan pernyataan mas Adit menjadi bahan refleksi bagi saya. Saya mempertanyakan kembali tujuan saya di Fordimapelar. Pada awalnya, saya tidak tahu menahu mengenai apa itu Fordimapelar, untuk membayar rasa penasaran saya, saya harus masuk dalam UKM tersebut. Akhirnya, saya tahu bahwa UKM Fordimapelar adalah UKM yang melatih nalar kita agar berpikir kritis. Sudahkah saya mendapatlan hal itu? Sejujurnya, masih belum. Tidak, bukan salah Fordi, tapi salah saya karena saya kurang berlatih. Apa yang saya cari di Fordi? Saya mencari keluarga baru, sahabat baru, sahabat yang lintas jurusan agar kita bisa berbagi dan bertukar pengalaman terlebih saya jurusan Sastra dan pada angkatan saya, hanya saya saja yang dari sastra. Sudahkah saya menemukan hal itu? Sedikit demi sedikit sudah, saya sudah menemukan keluarga dan kerabat baru meskipun belum sepenuhnya dekat, terlebih dengan angkatan yang terdahulu karena saya pun adalah tipikal orang yang introvert. Pertanyaan dan pernyataan mas Adit tersebut cukup menyentil saya. Mempertanyakan apa – apa sajakah tujuan saya dan apa – apa sajakah yang saya sudah capai di Fordi. Saya belum berhasil untuk mencapai suatu apapun. Tapi saya akan tetap belajar. Saya dahulu adalah orang yang awam terhadap organisasi, semasa saya duduk di bangku SMP hingga SMA saya tidak pernah bergabung dalam OSIS. Dan Fordi sudah memberikan saya pengalaman organisasi yang luar biasa.

Sejujrunya Fordimapelar bukanlah zona nyaman saya, saya menantang diri saya untuk keluar dari zona nyaman. Saya juga minder, karena melihat anggota – anggota Fordimapelar yang luar biasa dalam debat, speak up, retorika, bernalar, dan lain lain. Dan saya bertanya – tanya pada diri saya, mengapa saya begitu gugup bila berbicara di depan umum? Mengapa ketika saya menulis, isi kepala saya bisa keluar bertumpah – ruah? Kalau semalam saya berani bilang, mungkin saya akan mengatakan hal ini pada mas Adit “Tujuan saya mengikuti Fordi adalah karena pada awalnya saya tidak memiliki gagasan apapun mengenai Fordimapelar itu apa dan saya sangat suka menulis, saya ingin menyalurkan kegemaran saya di Fordi, serta saya ingin belajar mengenai jurnalistik. Saya ingin belajar berorganisasi, dan juga saya ingin mencari rumah kedua, keluarga baru, dan sahabat baru,” ya, mungkin itu yang akan saya katakan. Yah, sayangnya saya tidak memiliki keberanian yang cukup, maka dari itu saya menyalurkannya melalui tulisan. 

Kadang terlintas di benak saya, apa mungkin suatu hari nanti saya bisa bercakap di depan umum tanpa ada rasanya gugup? Apa mungkin saya bisa menjadi orang yang lebih supel? Apa jangan – jangan selama ini teman – teman dan angkatan atas (demisioner) merasa repot memiliki anggota seperti saya? Saya minta maaf yang apabila saya orangnya sulit untuk diajari, sulit untuk diarahkan. Tetapi yang jelas, hal itu bercokol di pikiran saya mengenai tujuan – tujuan saya ada di Fordi.

Pada hari jadi Fordimapelar yang ke-26 ini, saya harap UKM Fordimapelar bisa menciptakan kader kader penerus organisasi yang luar biasa, semoga. Dan tak lupa, saya akan tetap belajar untuk lebih berani lagi. Karena saya lebih suka mengeluarkan isi kepala saya melalui tulisan daripada berbicara. Untuk Fordimapelar, terima kasih karena di tempat ini saya belajar banyak hal. Terima kasih dan insya’Allah saya akan terus berproses dan belajar. 


Salam hangat,

Mega Fadilla.

Kamis, 08 Juni 2017

DINAMIKA DAN DIALEKTIKA PERKEMBANGAN GENERASI


sejarah kehidupan dan peradapan telah melahirkan generasi yang beragam. Masing-masing generasi memiliki keunikan dan kompleksitasnya sendiri-sendiri. demikian terjadi karena adanya batasan-batasan segmentasi setiap generasi. adapun keberagaman, keunikan disetiap generasi telah melahirkan pembaruan pola pikir dan pola sikap. pada gilirannya akan menjadi kebiasaan dilingkup masyarakat, maka dapat diartikan hal ini sebagai fenomena kebudayaan. Adapun Sebuah fakta menarik dalam perkembangan dunia Human Capital saat itu dan sekarang, yaitu munculnya Generasi X, Generasi Y serta Generasi Z yang kini mulai berkembang dan menjadi gaya hidup masyarakat dunia begitupun dindonesia. Gaya hidup seorang manusia biasa menjadi tidak biasa, yang tidak biasa menjadi luar biasa, semua itu terjadi dari pola pikir manusia. Generasi yang berkembang saat ini, tellah mengalami degradasi nilai humanity, generasi yang biasa disebut sebagai generasi Z, dengan ciri-ciri sebagai generasi yang ingin mencapai sesuatu tanpa sebuah proses (besifat instan), serta dalam besikap lebih mementingkan individualistik untuk suatu kepuasan yang disebut eksistensi. 

Pasca perang dunia kedua, yang berakhir sekitar abad ke 20, saat itulah mulai munculnya teori generasi ( generation theory ) oleh seorang pemikir bernama Strauss-Howe, teori ini mempelajari berbagai jenis karakter dari generasi X, Y menjadi Z. Strauss-howe memfokuskan pengamatannya pada Segala sesuatu terutama berhubungan dengan kebiasaan manusia dalam beraktivitas, sehingga ada kaitannya dengan ciri-ciri dari setiap generasi tersebut. setiap generasi-generasi yang muncul dapat menularkan berbagai luaran namun terkadang ada baik serta buruknya, Seperti halnya generasi X yang muncul pada saat tahun 1965-1980, generasi inilah penyebab lahirnya sebuah tokoh perubahan yang disebut teknologi serta generasi yang berani mendobrak nilai-nilai tradisional yang sebelumnya mereka anggap kolot. Mereka mengalami perkembangan dalam segala sesuatunya seperti adanya video musik, new wave, musik elektronik, musik heavy metal dan jenis musik rock. karakteristik generasi X juga dikenal sebagai generasi mandiri dan mudah beradaptasi, mereka memiliki pendidikan tinggi, aktif, mejalankan hidup yang seimbang, bahagia dan berorientasi pada keluarga. dalam dunia pekerjaan pun sangat memberikan kontribusi yang baik di tempat kerja, dengan pekerjanya yang sangat kompeten dan bisa diandalkan. Dilain sisi dari generasi X yang begitu banyak memberikan manfaatnya, generasi X tanpa sadar sudah mulai meracuni pola pikir serta tingkah laku manusia, membuat manusia berubah dalam perilakunya, seperti gaya berpakaian, kebiasaan mentato serta mentindih sebagian dari tubuhnya, menjabrik potongan rambut persis dengan idolanya, Namun masih sebatas kelompok masyarakat di zona perkotaan saja, hal yang paling fundamental adalah temuan-temuan teknologi, yang kelak berkembang menjadi sebuah alat – alat industrialis baru, serta semakin menambah kerakusaan umat manusia untuk mengapai dunia dengan tangannya. Kelak wariasan penemuan dan pengetahuan dibidang teknologi ini dilanjutkan oleh generasi-selanjutnya, yang kemudian diberi nama generasi Y. Genarasi Y memiliki peran yang cukup strategis dan visioner, sebab digenarasi Y ini lah, temuan-temuan pengetahuan dan teknologi semakin berkembang pesat. Sebagai generasi yang memiliki tugas untuk melanjutkan temuan-temuan dari genarasi X yang masih belum terselesaikan dalam mewujudkan suatu tatanan kehidupan yang lebih baik dan lebih memudahkan umat manusia dalam beraktifitas. 

Generasi Y dengan segala inovasi dan kreatifitasnya, telah melahirkan satu penemuan terbarukan dalam bidang pengetahuan dan teknologi. Adapun subangsih generasi Y antara lain dalam dunia teknologi, dengan ditemukannya telfon, internet, Handphone dsb. Karakteristik generasi Y adalah generasi yang memiliki inovasi dan kreatifitas serta ketekunan yang luar biasa dalam melakukan sesuatu untuk mencapai tujuan. Sumbangsi penemuan generasi Y sangat membantu kehidupan dalam bermasyarakat, atau biasa dikatakan sumbangsi generasi Y telah mampu mewujudkan cita-cita “kehidupan yang mampu menjangkau kehidupan yang luas melebihi wilayah dan batas teritorial, yang membawa kehidupan lebih praktis” namun sumbangsi dari inovasi dan kreatifitas yang begitu diagung-agungkan dimasanya, telah menuai titik lemah, yakni ketika kehidupan yang diimpikan para generasi sebelumnya telah tercapai, yakni kehidupan yang mudah dan praktis, menjadi mala-petaka bagi genrasi selanjutnya yang dikenal sebagai generasi Z, atau bisa dikatakan sebagai generasi terakhir. 

Generasi Z, bisa dikatakan sebagai generasi yang beruntung dan juga buntung, sebab dengan segala perkembangan kondisi dan situasi perkembangan pengetahuan dan teknologi yang telah diwariskan oleh generasi seblumnya, telah membawa kemudahan-kemudahan tersendiri, namun dengan segala kemudahan yang telah dinikmati, dan mudah dijumpai ini membawa kepada jurang kehancuran dan menjadi malapetaka tersendiri. Dengan adanya teknologi modern ini, generasi Z memiliki kemudahan untuk mencapai tujuan dengan cepat, dan mudah. Dengan segala kemudahan yang telah dinikmati, tidak membawa kemajuan yang cukup signifikan dalam berkehidupan, justru sebaliknya kemudahan-kemudahan yang telah dinimkati, menjadikan generasi Z, ketergantungan pada teknologi. Dalam bersikap generasi Z telah kehilanganjati dirinya atau jiwanya sebagai human “manusia”, ketergantungan teknologi yang semakin hari-semakin memabukan dirinya, generasi Z mulai hidup di antara dua dunia, dan mulai kehilangan dunia realitas, dan mualai terjerum dalam dunia hyper-rialitas. Kecanduan teknologi ini, kelak akan mempengaruhi sikap dari generasi Z. Sikap Generasi Z dalam lingkunagan yang pertama akan bersikap lebih pasif dalam lingkungan rialitas, dan cenderung riaksioner dalam lingkungan hyper-realitas, kecenderungan kedua mudah menyerah dan prustasi dalam berusaha, kecenderungan yang ke tiga akan lebih praktis dan menjahui proses dalam melakukan sesuatu. 

Melihat perkembangan dialektika perkembangan generasi, telah mencapai pada titik yang teramat kritis, degradasi nilai kemanusian yang begitu nampak didepan mata kita, hilangnya kepribadian didalam diri kita, hilangnya nilai sosial serta hilangnya control diri dalam diri kita. Perkembangan generasi dan pengetahuan serta teknologi tidak membawa kita pada kehidupan yang lebih baik, malah menghancurkan kita. Di zaman ini, Jika kita hitung, berapa lama kita menjadi diri kita sendiri? Maka hanya 2-3 jam kita menjadi diri kita, bahkan mungkin kita tidak pernah menjadi diri kita, sebab kesadaran kita tergantung pada teknologi dan informasi yang diinjeksi dari luar diri kita. Maka dapat dipastikan kehidupan generasi kita telah mati dari dirinya sendiri. Dan kita akan hidup tanpa kesadaran dan hanya hidup outomatis oleh prangkat-prangkat yang ada disekeliling 


penulis: Asep Aan Ardiana

Rabu, 07 Juni 2017

TANDA TANYA

Tanya yang tak segera tersentuh
Statis logika dan perasaan yang terlalu selektif
Searah dengan pemikiran ketat

Adakah seluruh tanyaku ini terasa olehmu,
yang tertutup banyang abu - abu?
Hilanglah kata yang hendak kuucap
Bak bunga layu di ujung kebun

Mungkinkah diamku berkeliaran menebar bom atom kekalutan?
Sehingga kau muncul dengan memperpanjang atau memberi jawaban?

Membuatku dehidrasi dan berjarak,
dengan negosiasi
Hak dan kewajiban antara yang nyata,
dengan imajinasi
Tanganku tak mampu menuliskan
Aku ragu,
Para malaikat yang seharusnya
membantu berjaga dan menuliskannya

Rasanya..
Hanyalah aku, penanya rahasia
yang belum menemukan titik ekuilibrium
Inilah logika dengan perasaan,
yang belum terbawa angin menemukan jawab.

(Intan Jauharul Makhnun)

Gila Ijazah & Tamak Nilai : Pelajar Masa Kini


“nomor 3,4,5 jawabannya apa? ,
Sudah ngerjain tugas belum? Minta dong, 
Sudah ngerjain makalah? Boleh copas gak?
 Yang penting lulus, dapat ijazah” 

Dialog di atas adalah potret pelajar masa kini. Fenomena pelajar tersebut telah mejadi budaya pada dunia pendidikan. Ironisnya, pelajar menganggap bahwa nilai dan ijazah adalah tujuan utama pendidikan. Jika seperti itu apakah ini yang disebut pendidikan telah kehilangan maknanya? 

Pelajar sekarang memandang nilai bagus atau IPK tinggi adalah hal yang harus di prioritaskan agar diakui kemampuan dan keberadaanya di linkungan keluarga maupun masyarakat, Padahal belum tentu seseorang yang memiliki nilai tinggi itu memiliki ilmu yang tinggi pula. Bisa jadi orang yang IPK nya pas-pasan lebih mumpuni ilmunya dari pada orang yang IPK nya tinggi. 

Ada si bodoh dengan IPK tinggi dan si Pandai dengan IPK pas-pasan. Itu semua erat kaitannya dengan adanya "Proses" dan "Hasil". Dewasa ini terkadang ada juga Guru atau Dosen yang hanya mementingkan "hasil" dari belajar mengajar, ketimbang "proses" selama belajar mengajar. Hal ini dapat memicu terjadinya berbagai kecurangan yang dilakukan pelajar dalam mendapatkan nilai. Pelajar akan melakukan apapun agar mendapat nilai yang maksimal. 

Mencontek ketika ujian, mengambil hasil kerja tugas teman tanpa mau mengerjakan dan sebagainya. Tidak peduli halal atau haram, baik atau buruk . Tuntutan Nilai atau IPK yang bagus, untuk bisa berkompetisi di dunia kerja, merupakan salah satu faktor mahasiswa tamak akan nilai yang tinggi. Padahal IPK yang tinggi juga membutuhkan tanggung jawab yang besar pula dari si empunya. Bayangkan, jika Si Bodoh dengan IPK tinggi masuk di sebuah perusahaan karena prestasi akademik yang tertulis di dalam transkip nilai, kemudian ketika bekerja ia tidak bisa banyak melakukan pekerjaan yang diamanahkan kepadanya, Sungguh hal yang memalukan bukan? 

Inilah sedikit potret pandangan pelajar Indonesia yang membuktikan bahwa nilai ijazah tidak menandakan kualitas pelajar. Ketamakan nilai dan gila ijazah para pelajar kini membuat fungsi dan tujuan pendidikan tidak lagi berjalan dengan semestinya. Di mana seharusnya Pendidikan untuk memberikan suatu pengajaran dengan ilmu pengetahuan untuk membentuk karakter bangsa yang takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, serta mencetak karakter, kreatifitas dan kecerdasan anak sejak dini, namun kenyataannya pendidikan sekarang hanyalah jalan untuk mendapat Ijazah dengan nilai memuaskan sebagai golden ticket untuk memasuki dunia kerja untuk menjadi pekerja dan meraih jabatan sehingga kesejahteraan hidup pun terjamin. 

Dari data yang dikeluarkan BPS pada bulan Februari 2015. Bahwa sebanyak 400 ribu pemuda Indonesia yang bertitel sarjana menjadi pengangguran. Sangat disayangkan melihat fenomena pelajar zaman sekarang yang seperti ini. Ekspetasi awal yang menggebu-gebu ingin mendapatkan pekerjaan yang layak, tidak sesuai dengan kenyataan yang terjadi setelah mereka lulus. Bingung, pontang panting mencari pekerjaan, berusaha memantaskan diri menjadi para pekerja, menjadi para pesuruh. Dan akhirnya pasrah, apapun pekerjaannya selagi halal akan mereka lakukan. 

Lalu, bagaimana dengan ilmu pengetahuan yang mereka dapatkan selama empat tahun di bangku perkuliahan? Kalau akhirnya hanya menjadi seorang pekerja yang melakukan pekerjaan berulang setiap harinya. lulusan SD juga bisa melakukannya tanpa harus menjadi sarjana . 

Jika saja para pelajar itu benar-benar memaksimalkan dirinya dalam proses pembelajaran tanpa harus memprioritaskan nilai yang tinggi sebagai acuan kesuksessanya yang akan mengantarkannya pada dunia kerja. Maka tidak akan banyak pelajar yang lulus menjadi pengangguran. Bagi pelajar yang memahami ilmunya dalam pendidikan, ketika lulus mereka akan tahu bagaimana mengaplikasikan ilmu nya dalam menciptakan peluang dunia kerja. 

Jadi mereka tidak begitu kesulitan dalam mecapai kesejahteraan hidup mereka. Namun Pendidikan juga bukan hanya jalan untuk mendapat kesejahteraan hidup setiap individu semata, tidak sesempit itu dalam memaknai pendidikan. Berikut tujuan pendidikan menurut UUD no 20.

Jabaran UUD 1945 tentang pendidikan dituangkan dalam Undang-Undang No.
20, Tahun 2003. Pasal 3 menyebutkan, “Pendidikan nasional berfungsi
mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang
bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk
berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan
bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap,
kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung
jawab.” 

Jadi fungsi pendidikan adalah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa yang nantinya bertujuan untuk membangun Indonesia menjadi negara yang dapat mensejahterakan rakyatnya. Untuk dapat membuat pelajar Indonesia memahami betapa pentingnya proses pendidikan itu tidaklah mudah, dibutuhkan kerjasama dari berbagai kalangan. Yaitu kalangan keluarga, para pengajar dan lembaga lembaga pendidikan. 

Keluarga adalah lingkungan utama yang dapat membentuk karakter dan pandangan seorang pelajar. Di mana orang tua seharusnya memberikan pandangan mengenai pentingnya pendidikan dan mendukung anak dalam perkembangannya. Kemudian para pengajar juga perlu melakukan pendekatan dan dukungan motivasi kepada siswa atau mahasiswanya juga memiliki loyalitas tinggi terhadap dunia pendidikan. Karena pengajar juga salah satu faktor yang dapat meningkatkan kesadaran pelajar terhadap proses pendidikan.Kemudian yang terakhir, Lembaga juga perlu melakukan perbaikan terhadap sistem-sistem pendidikan, seperti kurikulum dsb, juga memberikan pelatihan pada semua pengajar atau guru untuk meningkatkan kualitas setiap guru yang ada di Indonesia 

Jika ketiga hal itu berjalan dengan baik maka pelajar Indonesia dapat dengan maksimal menjalani proses belajar mengajar tanpa memikirkan hasil atau nilai nya terlebih dahulu. Sehingga dapat menghasilkan mahasiswa yang sudah mapan dalam berpikir, dan mahasiswa yang tidak sekedar memikirkan kepentingan akademis semata, namun jauh tersirat dalam benaknya tentang arti dari kualitas hidupnya sebagai pribadi yang mampu mengabdi terhadap masyarakat. Sebagai pribadi yang mampu melihat permasalahan disekitarnya dan menjadi bagian dari penyelesaiannya. Sehingga ia mampu mengerahkan potensi yang dimilikinya dan menjadi bagian penentu arah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Penulis:
Nama : Putri Latifa B. Laulang 
Alamat : Nginden Baru 3 No 1 C 
No Handphone : 0822 3669 5000 
Asal kampus : Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya 
Asal UKM : Fordimapelar Untag Surabaya

Kamis, 01 Juni 2017

Terkikisnya Integritasi Sosial Implikasi dari Media Sosial

Berbicara tentang integritasi sosial berarti berbicara tentang kesatuan seluruh Masyarakat yang ada di Indonesia. Kesatuan yang bulat dan utuh demi untuk terwujudnya Masyarakat yang harmonis dan rukun. Integrasi Sosial di Indonesia kini mulai menunjukkan penurunannya, Kelompok masyarakat satu dengan lainnya seolah kurang memiliki rasa solidaritas, Toleransi dan sudah melupakan nilai – nilai luhur serta norma yang menjadi panutan sejak zaman dulu. Penurunan ini Mungkin dapat disebabkan oleh Kurang Pahamnya Masyarakat Indonesia Tentang isi dan kandungan Pancasila sebagai ideologi negara ini. Lucu memang, Jika mengingat Pancasila selalu diajarkan dari mulai SD sampai Masuk Universitas. Selain hal itu Penurunan nilai Integrasi Sosial juga diakibatkan oleh Perkembangan zaman yang semakin modern yang mempengaruhi masyarakat secara tidak langsung. 

Modernisasi massal telah merambah ke berbagai lini kehidupan masyarakat, baik dikota ataupun di desa. Baik berupa teknologi, tren dan fashion. Modernisasi dibidang teknologi tentu menjadi hal yang sangat dinanti – nantikan oleh masyarakat, yang mana dengan teknologi tersebut akan sangat bermanfaat bagi kehidupan Masyarakat sehari - hari, Meringankan pekerjaan dan menambah wawasan, Namun jika melihat yang terjadi saat ini, sangking merasa dimudahkannya oleh teknologi masyarakat seakan lupa tentang Integritasi Sosial.

Zaman semakin modern. berbagai informasi pun telah mudah didapatkan dengan cepat, namun belum tentu akurat. Masyarakat memang harus dituntut untuk mampu menjadi Pembaca, Pengamat dan Penilai yang kritis tentang isu-isu sosial yang terjadi dalam masyarakat sekarang ini. Karena Isu-isu yang tersebar Belum tentu kebenaran dan jelas pertanggungjawabannya, yang mampu menimbulkan presepsi presepsi ambigu, penyebab terjadinya kesalahpahaman dan berujung bentrok atau pertikaian antar Masyarakat.

Perkembangan teknologi yang paling berperan penting dalam memainkan mindset Masyarakat adalah Teknologi Informasi komunikasi, Sebut saja internet dan Medsos atau media sosial. Media sosial sendiri sebenarnya adalah sebagai wadah masyarakat yang ingin sekedar sharing, mencari teman ataupun tempat bertukar informasi, mengemukakan pendapt atau opini dsb. Disana kita dapat memperoleh berbagai informasi terpopuler dan terupdate dari jagad dunia hiburan ataupun dunia perpolitikan Indonesia.

Media sosial yang dapat digunakan masyarakat untuk menyuarakan aspirasi, opini dan kritik. Positif memang, karena dengan adanya medsos Suara Rakyat akan semakin cepat sampai ke telinga Pemerintah. Penggunanaan teknologi informasi satu ini memang tidak mengenal batas waktu kapan dan dimanapun masyarakat dapat mengakses informasi – informasi yang tersedia. Asyik memang, namun tahukan jika Medsos dapat menyebakan masyarakat Indonesia melupakan nilai - nilai luhur dan integritas sosial dalam kehidupan bermasyarakat. Lewat media sosial Masyarakat yang memiliki kepentingan – kepentingan tertentu dapat memengaruhi Masyarakat secara tidak langsung, mungkin dengan informasi - informasi yang bersifat provokatif dan mengacu pada hal Perpecahan antar warga Masyarakat,

Media sosial telah menciptakan budaya Masyarakat Kekinian, Masyarakat terkini, yang selalu up to date dengan tren-tren yang menyebar, tingkat Narsisme yang tinggi, atau bisa juga disebut masyarakat yang sejalan dengan perkembangan mode atau tren saat itu. Media sosial semestinya menjadi media yang benar – benar sosial, dalam artian berfungsi untuk kebutuhan untuk berkomunikasi secara praktis dan mendapatkan informasi, Lain halnya dengan sekarang, Masyarakat kebanyakan menggunakan Medsos tidak hanya sebagai sarana komunikasi praktis, tapi juga sarana Narsisme. Bahkan beberapa oknum tidak bertanggung jawab melakukan tindakan penipuan atau kriminalitas lewat media sosial.

Melihat tingginya pengguna media sosial baik kalangan remaja, dewasa, bahkan anak – anak yang masih mudah dipengaruhi, Media sosial menjadi lahan yang pas untuk melontarkan isu –isu yang bersifat profokatif, seperti isu politik pada masa pemilihan umum dimana dua kubu atau bahkan lebih saling berlomba demi merebut simpati rakyat dan kepercayaan rakyat. Media sosial ini dijadikan ajang pertandingan atau saling serang menyalahkan pihak – pihak tertentu dengan berita yang masih ambigu. Di kalanga remaja pula, mereka menggunakan media sosial sebagai tempat untuk curhat, melampiaskan amarah dengan kata – kata kasar, yang ditujukan kepada orang - orang tertentu.

Media sosial berpengaruh terhadap perkembangan rasa Nasionalisme Bangsa Indonesia. Berkat Media Sosial ideologi - ideologi asing dapat dengan mudah masuk dan meracuni pikiran masyarakat, Kondisi masyarakat yang lebih menyukai membaca media sosial daipada membaca situasi sosial Akan memungkinkan mudah terpengarunhya mereka untuk merubah tatanan pola kehidupan yang telah dibangun sesuai ideology bangsa. Misalkan saja meniru budaya Asing tentang cara berpakaian ataupun cara bergaul. Hal semacam inilah yang menyebabkan rasa keutuhan masyarakat semakin menipis, Bagaimana mau bersatu kalau Ideologi sendiri saja ditinggalkan.

Banyak masyarakat yang tidak sadar Jika telah membuat suatu informasi baik berupa tulisan, foto atupun video yang menghina ataupun menyalahkan beberapa pihak tertentu dan tidak mengindahkan yang namanya Musyawarah tentu saja perbedaan pendapat bukan lagi menjadi hal yang menarik, Namun menjadi hal yang menakutkan karena sekecil apapun perbedaan itu jika sudah masuk ke media sosial dan ditambahi bumbu bumbu manipulatif , maka akan Menjadi berita besar dan memanas.

Kemanakah NKRI yang dulu, yang terkenal memiliki masyarakat yang berbudi luhur dan memiliki simpati serta empati yang tinggi terhadap sesama, Menjunjung tinggi nilai- nilai Pancasila. Namun dengan adanya media sosial serta pengaruh - pengaruh yang muncul didalamnya yaitu munculnya berita yang telah dimanipulatif dan berujung provokasi serta budaya – budaya asing yang masuk tanpa bisa dicegah. Hal inilah yang sangat disayangkan, Kenapa di zaman yang semakin canggih ini perkembangan teknologi beresiko untuk meruntuhkan kesatuan NKRI.

Mugkin dengan regulasi dari pemerintah diharapkan mampu untuk setidaknya memfilter budaya barat yang masuk ke dalam negeri, Kesadaran masyarakat juga menjadi poin paling penting, Masyarakat sebagai pengendali arus media sosial seharusnya mampu untuk membagikan informasi yang kebenarannya dapat dipertanggungjawabkan dan bagi pembaca juga harus menelaah lebih lanjut, tidak ditelan mentah - mentah dan terprovokasi, Karena Masyarakat Cerdas akan membawa implikasi yang baik bagi Negeri ini.