18.48.00
Sungguh ku
tulis dengan air mata yang mewakili dirinya, dalam malam panjang yang berlanjut
pada paginya. Kehidupan yang tak setara dengan mereka yang tak senasib pada
malam indah, berpesta ria disurga dunia ini.
Bersyukurlah kita pada Tuhan, karna dirumah kita tak
menyimpan sawah seluas seperkecil dari alam raya ini. Tak menyimpan sapi yang
setiap harinya menghasilkan kotoran sapi dalam bentuk wujud emas.
Dua beda nasib itu sama-sama akan mengalami kematian. Dunia
yang membedakan mereka dalam tipe kesengsaraan. Keduanya memahami kesengsaraan
bersama. Namun, bagai pinang dibelah dua tetaplah beda jua rasa nitmat dunianya.
Yang satu menikmati belantara kesengsaraan orang lain
dengan haus duniawi. Yang satunya lagi memotori dirinya seakan sapi yang
diperas keringatnya untuk membajak sawah dan menghasilkan air susunya.
Karna kepintaran manusia akan akalnya. Lahirlah seorang
Plato dengan perjuangannya, pada pemikiran nasib mereka yang kehidupannya tak
sempat kenal rakus dunia.
Sementara itu adapula pemikiran dari seorang Adam Smith
percaya, bahwa seorang harus rakus akan duniawi agar manusia itu bernilai
tinggi. Smith berdalang bahwa manusia tetaplah memiliki hati manusia.
Tapi sapa disangka manusia tetaplah manusia, karna dengan
itu smith mengeluarkan buku moral untuk kaum pemburu rente itu. Setiap
pemikiran mereka tetaplah memberikan tangis pada masing-masing ceritanya.
Berdamailah dan bersatu rasa dengan kita.. maka dunia ini kita nikmati
bersama...
#Ragil Ajeng Pratiwi
0 komentar:
Posting Komentar