Selasa, 15 November 2016

Tangis serakah dunia



Sungguh ku tulis dengan air mata yang mewakili dirinya, dalam malam panjang yang berlanjut pada paginya. Kehidupan yang tak setara dengan mereka yang tak senasib pada malam indah, berpesta ria disurga dunia ini. 

Bersyukurlah kita pada Tuhan, karna dirumah kita tak menyimpan sawah seluas seperkecil dari alam raya ini. Tak menyimpan sapi yang setiap harinya menghasilkan kotoran sapi dalam bentuk wujud emas. 

Dua beda nasib itu sama-sama akan mengalami kematian. Dunia yang membedakan mereka dalam tipe kesengsaraan. Keduanya memahami kesengsaraan bersama. Namun, bagai pinang dibelah dua tetaplah beda jua rasa nitmat dunianya. 

Yang satu menikmati belantara kesengsaraan orang lain dengan haus duniawi. Yang satunya lagi memotori dirinya seakan sapi yang diperas keringatnya untuk membajak sawah dan menghasilkan air susunya. 

Karna kepintaran manusia akan akalnya. Lahirlah seorang Plato dengan perjuangannya, pada pemikiran nasib mereka yang kehidupannya tak sempat kenal rakus dunia. 

Sementara itu adapula pemikiran dari seorang Adam Smith percaya, bahwa seorang harus rakus akan duniawi agar manusia itu bernilai tinggi. Smith berdalang bahwa manusia tetaplah memiliki hati manusia. 

Tapi sapa disangka manusia tetaplah manusia, karna dengan itu smith mengeluarkan buku moral untuk kaum pemburu rente itu. Setiap pemikiran mereka tetaplah memberikan tangis pada masing-masing ceritanya. Berdamailah dan bersatu rasa dengan kita.. maka dunia ini kita nikmati bersama...

 

#Ragil Ajeng Pratiwi





0 komentar:

Posting Komentar