Selasa, 15 November 2016

K'tut Tantri pejuang wanita asing

               


Ktut Tantri yang merupakan salah satu pedukung pemberontak bersama Bung Tomo. Berasal dari keluarga bangsa viking yang gemar berpetualang. Bernama asli Muriel Stuart walker yang lahir pada Sabtu, 18 Febuari 1899 di Glasgow, Skotlandia, Britania Raya. Merupakan anak tunggal dari pasangan James Hay Stuart Walker dan Laura Helen yang berasal dari pulau Man.

Ayahnya wafat sebelum ia lahir karena penyakit yang diderita oleh Ayahnya sewaktu melakukan ekspedisi arkeologi ke Afrikakurang ajar lantaran memakai kedok Sekutu untuk memulihkan supremasi Belanda.

Bung Tomo pun mengenang Tantri dalam buku Revolusi di Nusa Damai. Atas siarannya dalam radio pemberontakan yang berada di Embong Mawar, Surabaya.

Boleh dikata Tantri merupakan salah satu dari seorang perintis hubungan persahabatan Australia-Indonesia. Buklet karyanya, Soerabaja Sue's Inside Story of Indonesia yang terbit di Sydney pada 1947, yang telah membuka simpati masyarakat Australia kepada perjuangan Indonesia.

Dia pun menjadi warga Australia sejak 1985.Tak banyak yang mengenalnya saat ini, ia seakan terlupakan oleh berjalannya waktu.

Meskipun banyak yang meragukan atas cerita hidupnya dalam sebuah tulisan yang ia buat merupakan percampuran antara fakta dan fiksi.

Namun, ketidak setujuannya atas penindasan yang dilakukan oleh Belanda mampu memberikan ide semangat dalam darah dan jiwa arek-arek Surabaya saat itu.

Ia juga sangat mengutuk keras atas perlakuan para penjajah terhadap bangsa Indonesia.

Meskipun harus bermusuhan sendiri dengan bangsa Belanda, ia merasa takdir hidupnya merupakan sebagaian dari bangsa Indonesia terutama kota Surabaya.

Harapannya kita pemuda dan pemudi bangsa Indonesia juga memberikan kontribusi terhadap Negara.

Dalam berinovasi serta menanamkan rasa cinta air dengan semangat juang sama halnya dengan pejuang terdahulu..

Sekitar akhir tahun 1920 ia bersama Ibunya pindah menjadi warga Amerika Serikat. Dan sempat menikah dengan Karl Henning Pearsen.

Dalam romantika pertemuannya dengan suaminya, pertemuan mereka bermula di sebuah gedung bioskop Hollywood Boulevard yang menyajikan film Bali, The Last Paradise pada 1932.

Atas inpirasi film itulah darah yang diwariskan oleh bangsanya membawanya pada Indonesia. Seusai sampa Indonesia

perlabuhan pertama ialah Batavia, Muriel bermobil menyusuri pesisir utara Jawa hingga pada akhirnya menemukan pulau yang menjadi tujuan utamanya di Indonesia yaitu Pulau Bali. Kedatangannya di Pulau Bali disambut baik oleh Raja Bangli Anak Agung Gede. Sang Raja mengangkatnya sebagai anak keempat, dan memberinya nama K'tut.

Ia menetap di Bali pada tahun 1934 hingga kedatangan jepang. Ia menjadi tawanan Jepang. Selepas itu selama 2 tahun di kediri dan surabaya ia bergabung dengan Bung Tomo dalam radio pemberontakan. Dalam siarannya menggunakan bangsa inggris tersebut ia mengkritik Inggris yang

kurang ajar lantaran memakai kedok Sekutu untuk memulihkan supremasi Belanda. Bung Tomo pun mengenang Tantri dalam buku Revolusi di Nusa Damai.

Atas siarannya dalam radio pemberontakan yang berada di Embong Mawar, Surabaya.

Boleh dikata Tantri merupakan salah satu dari seorang perintis hubungan persahabatan Australia-Indonesia. Buklet karyanya, Soerabaja Sue's Inside Story of Indonesia yang terbit di Sydney pada 1947, yang telah membuka simpati masyarakat Australia kepada perjuangan Indonesia. Dia pun menjadi warga Australia sejak 1985.

Tak banyak yang mengenalnya saat ini, ia seakan terlupakan oleh berjalannya waktu. Meskipun banyak yang meragukan atas cerita hidupnya dalam sebuah tulisan yang ia buat merupakan percampuran antara fakta dan fiksi.

Namun, ketidak setujuannya atas penindasan yang dilakukan oleh Belanda mampu memberikan ide semangat dalam darah dan jiwa arek-arek Surabaya saat itu. Ia juga sangat mengutuk keras atas perlakuan para penjajah terhadap bangsa Indonesia.

Meskipun harus bermusuhan sendiri dengan bangsa Belanda, ia merasa takdir hidupnya merupakan sebagaian dari bangsa Indonesia terutama kota Surabaya.

Harkurang ajar lantaran memakai kedok Sekutu untuk memulihkan supremasi Belanda. Bung Tomo pun mengenang Tantri dalam buku Revolusi di Nusa Damai.

Atas siarannya dalam radio pemberontakan yang berada di Embong Mawar, Surabaya.

Boleh dikata Tantri merupakan salah satu dari seorang perintis hubungan persahabatan Australia-Indonesia. Buklet karyanya, Soerabaja Sue's Inside Story of Indonesia yang terbit di Sydney pada 1947, yang telah membuka simpati masyarakat Australia kepada perjuangan Indonesia. Dia pun menjadi warga Australia sejak 1985.

Tak banyak yang mengenalnya saat ini, ia seakan terlupakan oleh berjalannya waktu. Meskipun banyak yang meragukan atas cerita hidupnya dalam sebuah tulisan yang ia buat merupakan percampuran antara fakta dan fiksi.

 Namun, ketidak setujuannya atas penindasan yang dilakukan oleh Belanda mampu memberikan ide semangat dalam darah dan jiwa arek-arek Surabaya saat itu. Ia juga sangat mengutuk keras atas perlakuan para penjajah terhadap bangsa Indonesia.

Meskipun harus bermusuhan sendiri dengan bangsa Belanda, ia merasa takdir hidupnya merupakan sebagaian dari bangsa Indonesia terutama kota Surabaya.

Harapannya kita pemuda dan pemudi bangsa Indonesia juga memberikan kontribusi terhadap Negara. Dalam berinovasi serta menanamkan rasa cinta air dengan semangat juang sama halnya dengan pejuang terdahulu.

Apannya kita pemuda dan pemudi bangsa Indonesia juga memberikan kontribusi terhadap Negara. Dalam berinovasi serta menanamkan rasa cinta air dengan semangat juang sama halnya dengan pejuang terdahulu.

 

#Ragil Ajeng Pratiwi




0 komentar:

Posting Komentar