Saat ini kita sedang memasuki era
globalisasi, ditandai dengan perkembangan teknologi yang semakin maju dan
ditunjang dengan kemudahan mendapatkan informasi kapan saja dan dimana saja. Kecanggihan teknologi diera globalisasi dapat
menjadi musuh dapat pula menjadi sahabat, banyak sisi positif yang bisa
dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari,namun tak kalah banyak juga sisi
negatif yang akan berdampak buruk pada keberlangsungan hidup manusia.Orang
bijaklah yang bisa memilah baik buruk dari sebuah perkara, namun pelaku dalam
era globalisasi tak dipungkiri berasal dari berbagai kepribadian, budaya dan
lain sebagainya. Tidak semua orang bisa menjadi bijak untuk memilah antara
informasi yang positif dan negatif.Telah banyak yang menjadi korban dari perkembangan
teknologi dan informasidi era globalisasi,menurut beberapa penelitian, mereka
para kalangan remaja dan pelajar yang sedang menempuh pendidikan Sekolah Menengah Atas – sederajat paling
banyak menjadi korban dari perkembangan teknologi dan informasi di era
globalisasi. Mengapa kalangan remaja dan pelajar lebih banyak menjadi korban
dari perkembangan teknologi dan informasi?, karena di usia remaja dan pelajar tergolong
usia labil,cenderung tidak konsisten dan masihberupaya untukmencari jati diri.Dengan
berkembangnya teknologi dan informasi, dalam pencarian jati diri sering
dipengaruhi oleh perkembangan informasi
yang ada. Oleh sebab itu dalam gaya hidup mereka sering meniru gaya para
selebritis yang sedang populer,hal ini terjadi tanpa mereka sadari sehingga
gaya hidup para selebritis tersebut menjadi tolak ukur mereka para remaja dan
pelajar, dan menjadi gaya hidup yang harus diikuti, misalnya cara berpakain, gaya rambut, dan cara berprilaku dalam kehidupan sehari-hari,termasuk gaya dan
prilaku saat bersekolah. Mereka menganggap jika mengikutigaya hidup dan fashion
dari selebritis yang sedang pepuler dan digandrungi dianggap sesuatu yang
berharga dan sangat menarik dan akan mendapat perhatian serta pujian teman di
sekitar.miris ketika gaya berpakain dan prilaku mereka yang lebih mengedepankan
sensasional dan terkesan liberal diaplikasikan
dalam kehidupan didunia pendidikan saat ini.. Sangat ironis jika kita
lihat prilaku dan gaya hidup para pelajar yang seperti itu menjamur dikehidupan
sekitar kita, sedangkan dunia pendidikan memiliki aturan dan norma-norma
sosial,yang telah ditentukan, yang bersifat sopan dan formal.
Kini aturan-aturan yang telah ditentukan
oleh pemerintah yang di jalankan oleh sekolahan seolah-olah terlebur bersama
perkembangan teknologi dan informasi.Sedangkan teknologi dan Informasi yang
berkembang, cenderung sensasional dan libral sehingga membentur dinding-dinding
norma sosial yang ada dalam dunia pendidikan. Sedangkan informasi yang memiliki kecenderungan negatif telah tertanam dalam diri mereka,dan menyatu
didalam jati dirinya, dan apa yang dilakukan para selebritis yang sedang
populer, harus dilakukan meskipun itu melangar norma-norma sosial, termasuk
dalam dunia pendidikan. Terkadang banyak siswa yang telat masuk sekolah hanya
karena terlalu lama berdiri memandangi diri didepan kaca untukmerias diri
supaya sama dengan selebritis yang populer, sehingga waktu, pikiran dan
konsentrasinya habis untuk berias diri, dan mengakibatkan pendidikannya
terbengkalai.Jika kita telisik kehidupan pada 20 tahun yang lalu, sebelum
teknologi dan informasi berkembang,dulu para pelajar datang kesekolah dengan
niatan mencari ilmu sehingga waktu, pikiran dan konsentrasinya tertuju pada
ilmu yang diberikan para pengajar, namun pada saat ini hanya beberapa siswa
saja yang memiliki niatan untuk mencari ilmu, kebanyakan dari mereka datang
kesekolah agar mendapat uang saku dan memamerkan gaya pakaian, gaya rambut dan
prilaku yang mencontoh para selebritis yang sensional dan populer untuk mendapatkan perhatian dan pujiandari teman-teman
disekolahan.Adapun ketika bertemu teman-teman hal yang dibicarakan tidak akan
jauh dari gosip terbaru, fashion yang sedang digandrungi, dan tempat nongkrongan
yang terkenal, bukan membicarakan pelajaran yang didapatkan dari para pengajar.
Bagi mereka gaya hidup sesuai selebritis menjadi prioritas utama, entah itu
tatanan rambut ataupun tatanan rias. Sedangkan memahami pelajaran dari para
pengajar diabaikan, tanpa kita sadari waktu,
pikiran dan konsentarsi mereka terbuang sia-sia. Sedangkan dalam berpakaian
mereka cenderung lebih sensasional dan libral sehingga sering melangar nilai
kesopanan dan formalitas dalam dunia pendidikan.Melihat realitas pergaulan
hidup yang seperti ini, perkembangan teknologi dan informasi telah mewarnai
dunia pendidikan kita, teknologi dan informasi telah membantu kita untuk
mendapatkan akses informasi yang begitu luas sehingga mampu menunjang
pengetahuan para pelajar. Namun perkembangan teknologi dan informasi juga telah
merubah prilaku dan gaya hidup para pelajar, sehingga banyak norma-norma yang
dilanggar, dan mengkesampingkan prioritas belajar. Alangkah baiknya jika hal
ini dijadikan sebuah hubungan yang saling ketergantungan , antara niat mencari
ilmu dengan gaya hidup yang sedang marak di kalangan remaja, bukankah hal ini
menimbulkan dampak positif bagi kedua belah pihak. Sebenarnya kita juga tidak
boleh terlalu menyalahkan remaja masa kini yang mana mereka lebih mengedepankan
penampilan mereka ketika mau kesekolah, tidak begitu di permasalahkan karena
menjaga penampilan itu juga harus, agar membuat kita ketika di sekolah lebih
nyaman dan tidak mengganggu sistem velajar mengajar. Tetapi, bergaya lah
sewajarnya saja jangan sampai melanggara aturan-aturan yang sudah di tetapkan
oleh sekola. Hal ini sudah wajar karena dengan adanya teknologi yang semakin
canggih membuat mereka sudah pinter
terlebih dahulu sebelum para guru mengajari mereka. Baik dalam model fashion
yang sedang trend di era globalisasi saat ini. Biarkan mereka menuruti
keinginan mereka asalkan tidak melanggar perauran di sekolah dan tetap fokus
pada pelajaran
Penulis : Daffa Dwi Sri Diyanti (Fakultas Psikologi)





