Sungguh ku tulis dengan air mata
yang mewakili dirinya, dalam malam panjang yang berlanjut pada paginya.
Kehidupan yang tak setara dengan mereka yang tak senasib pada malam indah,
berpesta ria disurga dunia ini.
Bersyukurlah kita pada Tuhan, karna
dirumah kita tak menyimpan sawah seluas seperkecil dari alam raya ini. Tak
menyimpan sapi yang setiap harinya menghasilkan kotoran sapi dalam bentuk wujud
emas.
Dua beda nasib itu sama-sama akan
mengalami kematian. Dunia yang membedakan mereka dalam tipe kesengsaraan.
Keduanya memahami kesengsaraan bersama. Namun, bagai pinang dibelah dua
tetaplah beda jua rasa nitmat dunianya.
Yang satu menikmati belantara kesengsaraan
orang lain dengan haus duniawi. Yang satunya lagi memotori dirinya seakan sapi
yang diperas keringatnya untuk membajak sawah dan menghasilkan air
susunya. (selengkapnya)
0 komentar:
Posting Komentar