Minggu, 29 Oktober 2017

Mahalnya Biaya Pendidikan di Era Globalisasi



Perekonomian di Indonesia semakin tidak menentu, krisis yang terus membelenggu negara kita tak kunjung ada ujungnya, kehidupan masyarakat semakin menderita.Segala kebutuhan sudah tak terjangkau lagi oleh masyarakat miskin. Kelaparan terjadi di banyak tempat di Indonesia, belum lagi masalah mahalnya biaya  pendidikan, yang merupakan salah-satu masalah bangsa ini yang sulit di selesaikan.Salah-satu tolak ukur negara maju adalah terciptanya wawasan yang luas yang dimiliki oleh generasi penerus bangsanya.
Realitanya bukan hanya di Perguruan Tinggi saja biaya pendidikan yang  mahal , melainkan dari Taman Kanak-Kanak saja sudah mahal, untuk masuk TK dan SD saja saat ini dibutuhkan biaya Rp. 500.000, - sampai Rp 1.000.000. Bahkan ada yang memungut diatas Rp 1.000.000. Sekarang masuk SLTA/SLTP bisa mencapai Rp. 1.000.000 sampai Rp 5.000.000.
Salah- satu penyebab mahalnya biaya pendidikan saat ini tidak lepas dari kebijakan pemerintah yang menerapkan Manajemen Berbasis Sekolah ( MBS ). MBS di Indonesia pada realitanya lebih dimaknai sebagai upaya untuk melakukan mobilisasi dana. Karena itu , Komite Sekolah / Dewan Pendidikan yang merupakan organ MBS selalu disyaratkan adanya unsur pengusaha. Asumsinya, pengusaha memiliki akses atas modal yang lebih luas . Hasilnya, setelah Komite Sekolah terbentuk, segala pungutan uang kadang berkedok, “ sesuai keputusan Komite Sekolah “.Mungkin jika di tingkat Taman Kanak-Kanak dan Sekolah Dasar biaya yang mahal bisa sedikit diatasi,tetapi lain halnya jika sudah memasuki Perguruan Tinggi pastilah sangat berat untuk bisa menyelesaikannya sampai lulus, dengan biaya yang tiap tahun semakin mahal, mulai dari uang gedung yang naik, biaya kuliah, dan belum biaya hidupnya. Bukankah hal ini sangat membuat beban bagi setiap orang tua, apalagi peluang untuk mendapatkan  beasiswa semakin kecil, bukankah hal ini semakin membuat para orang tua sulit.
Dari data diatas menunjukkan bahwa mulai dari Taman Kanak-Kanak ( TK ) saja, biaya pendidikan sudah mahal apalagi di Perguruan Tinggi pastilah biayanya sudah di luar penghasilan orang tua. Tetapi hal ini tidak dianggap beban bagi orang yang kehidupannya dibilang sudah mampu atau bisa dikatakan kaya, berapapun biaya sekolah, tidak menjadi hambatan untuk mengenyam bangku pendidikan, lain halnya dengan orang yang tergolong dari keluarga yang tidak begitu mampu, dengan mahalnya biaya pendidikan membuat mereka masih harus bekerja lebih keras lagi untuk membayar uang sekolah untuk anaknya. Tidak heran jika kebanyakan dari  mereka yang tergolong kurang mampu putus sekolah. Karena, menurut mereka tidak ada pilhan lain, selain putus sekolah dan mencari pekerjaan untuk membantu orang tuanya.
Bukankah hal ini termasuk tidak adil, serasa dunia pendidikan hanya untuk orang kaya, lalu bagaimana dengan orang miskin, yang mempunyai kualitas bagus?.
Apakah kepinteran  mereka hanya terbuang begitu saja,tanpa ada sebuah wadah untuk mengembangkannya.Bukankah realitanya kebanyakan orang-orang yang tergolong dari keluarga miskin, yang menjadi sukses dan terkenal bahkan terkadang kontribusimereka sangat di perlukan untuk negeri ini.Karena mereka punya kemauan yang sangat hebat. Tetapi juga tidak menutup kemungkinan orang yang tergolong dari keluarga kaya juga bisa sukses dan terkenal, hanya saja jika  orang kaya bisa sukses itu hal yang wajar lain halnya dengan orang yang miskin.
Banyak sekali masalah yang sering terjadi disana sini, apalagi dalam masalah biaya pendidikan yang sangat dirasakan bagi masyarakat kalangan bawah.  Seharusnya pendidikan merupakan hak seluruh rakyat Indonesia seperti yang terdapat dalam Pembukaan UUD 1945 yang berbunyi  salah- satu tujuan Negara kita adalaah mencerdaskan kehidupan bangsa. Hal ini mempunyai konsekuensi bahwa Negara harus menyelenggarakan dan memfasilitasi seluruh rakyat Indonesia untuk memperoleh pengajaran dan pendidikan yang layak.Bukan malah biaya yang semakin di tinggi dan fasilitas tidak begitu memadai. sekarang ini sekolah mendapatkan Bantuan Operasional Sekolah ( BOS) tetapi masih belum mencukupi biaya pendiddikan bagi masyarakat yang kurang mampu. Semestinya pemerintah juga harus lebih mengoptimalkan agar pendidikan bisa di nikmati bagi seluruh rakyat Indonesia.Semestinya selain pemerintah yang sudah berusaha untuk mengoptimalkan biaya pendidikan agar tidak terlalu mahal pihak dari setiap keluarga juga harus lebih pintar untuk merencanakan  keungannya untuk masa depan keluarganya, agar setelah anaknya lulus,tidak putus sekolah. Sejatinya tanggung jawab orang tua sangatlah berat karena harus membiayai anaknya sejak lahir sampi ke jenjang yang lebih tinggi.  Meningkatnya biaya pendidikan saat ini juga menyebabkan para orang tua tidak memperhatikan pendidikan anaknya karena mereka tidak mampu untuk  membayar biaya pendidikan anaknya, apalagi yang mempunyaii anak lebih dari dua pastilah mereka merasa tidak kuat. Akan tetapi kita juga tidak hanya memperhatikan kepada kenaikan anggaran saja. Sebab percuma saja, jika kualitas Sumber Daya Manusia dan mutu pendidikan di Indonesia masih rendah . Masalah wajib sembilan tahun sejatinya masih menjadi PR besar bagi kita. Kenyataan yang dapat kita lihat bahwa banyak di daerah- daerah pinggiran yang tidak memiliki sarana pendidikan yang memadai. Dengan terbengkalanya program wajib belajar sembilan tahun mengakibatkan anak- anak Indonesia masih banyak yang putus sekolah sebelum mereka menyelesaikan wajib sembilan tahun. Dengan kondisi tersebut, bila tidak ada perubahan kebijakan yang signifikan sulit bagi bangsa ini keluar dari masalah-masalah pendidikan yang ada, apalagi bertahan pada kompetisi di era global.
Sebenarnya kondisi ideal pendidikan bagi bangsa ini adalah tiap anak bisa sekolah minimal hingga tingkat SMA tanpa membedakan status karena itulah hak mereka. Namun hal tersebut sangat sulit untuk di realisasikan pada saat ini. Oleh karena itu, setidaknya setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk mengenyam dunia pendidikan. Dan usahakan biaya tiap tahun tidak semakin mahal agar saling menguntungkan dan mewujudkan cita-cita , baik dari generasi muda yang sedang mengenyam dunia pendidikan atau bagi bangsa ini.

Ditulis oleh Maisaroh 
Fakultas Ekonomi Manajemen

0 komentar:

Posting Komentar