Rabu, 15 November 2017

FLP 2017 (Fordimapelar Leadership Program)

SALAM KRITIS!!!
Halo pemuda generasi penerus bangsa, kami dari UKM Fordimapelar akan mengadakan FLP (Fordimapelar Leadership Program) guna membangun karakter solidaitas dan integritas kalian. Yuk, gabung bersama kami! Daftarkan dirimu sekarang juga, kunjungi stand kami di Graha Wiyata lt 1 atau kalian bisa mengunjungi kesekretariatan UKM Fordimapelar di Student Center no 11. Jadi, tunggu apalagi? Ingin menjadi generasi kritis, yuk gabung dan belajar bersama kami di FLP 2017.

Pelaksanaan Program “BAKUMU” ( Budoyoku Budoyomu ) Sebagai Langkah Pemuda Untuk Menjaga dan Melestarikan Budaya Tari Tradisional di Era Digital

Indonesia merupakan sebuah negara kepulauan yang kaya akan ragam kebudayaan dari Sabang sampai Merauke dengan 742 bahasa daerah, 33 pakaian adat dan 200 lebih tarian adat keragaman budaya ini merupakan sebuah rahmat yang patut kita syukuri dengan tetap kita jaga dan lestarikan sebagai identitas bangsa Indonesia. Budaya sendiri menurut Melville J. Herskovits dan Bronislaw Malinowski, mengemukakan bahwa budaya merupakan segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimilliki oleh masyarakat itu sendiri. Istillah untuk pendapat itu adalah Cultural-Determinism dan menurut pandangan Herskovits kebudayaan sebagai sesuatu yang turun menurun dari satu generasi ke generasi yang lain, yang kemudian disebut sebagai superorganic. Dari beberapa pengertian mengenai budaya dapat kita tarik kesimpulan bahwa budaya merupaka sesuatu yang ada didalam masyarakat yang terjadi secara turun temurun. Akan tetapi di era digital seperti sekarang ini mempertahankan identitas suatu bangsa atau bisa kita sebut budaya bukan merupakan hal yang mudah melainkan sebuah tantangan baru, dimana era digital ini berpengaruh terhadap segala bidang kehidupan dan segala aspek-aspek sosial yang ada di masyarakat.
Banyaknya generasi muda yang tidak mengenal budaya daerah sendiri dan lebih tertarik terhadap budaya lain atau bisa disebut budaya asing yang membuat mereka menjadi bergantung dan malas melakukan suatu aktivitas menjadikan sebuah problema besar yang harus kita selesaikan agar tidak terjadi suatu penghilangan budaya digenerasi selanjutnya. Tari sendiri mempunyai pengertian adalah gerak tubuh secara berirama yang dilakukan ditempat dan waktu tertentu untu keperluan pergaulan, mengungkapkan perasaan, maksud dan pikiran dimana bunyi-bunyian sebagai musik penggiring tari yang mengatur gerakan penari dan memperkuat maksud yang ingin disampaikan.
Budaya tari tradisional menjadi fokus utama kita dalam pembahasan kali ini dikarenakan mulai langkahnya seorang penari didaerah-daerah, hal ini diakibatkan oleh adanya perkembangan teknologi dan informasi yang semakin pesat membuat budaya tari tradisional ini semakin tertinggal, dimana kaum muda lebih senang memainkan perangkat elektronik ketimbang melakukan tarian tradisional. Dampak dari era digital ini secara tidak langsung mendoktrin manusia untuk selalu bergantung dan malas untuk melakukan kegiatan terutama interaksi dengan sesama, dengan adanya dampak seperti ini secara perlahan akan mengancam kelestarian budaya tari tradisional dikarenakan generasi yang malas untuk mengetahui dan belajar tari tradisional. menurut survei centre for strategic and Internasional studies kegiatan yang paling menarik minat para pemuda (17-29)  merupakan suatu kegiatan yang berhubungan dengan  benda Eloktronik dan internet diantranya music 19,0 % menonton film 13,7 % permainan dan teknologi baru 5,7 %  dan aktif dalam media sosial 5,5 %. Dimana survei dilakukan pada 23-30 agustus 2017 dengan jumlah responden 600 di 34 provinsi di Indonesia. Dari hal ini dapat kita lihat bahwa generasi muda lebih tertarik dan cenderung terhadap benda elektronik ketimbang budaya tari tradisional terbukti kegiatan yang paling diminati pemuda mendengarkan music pada posisi kedua kedua, menonton film dan sisanya permainan dan teknolgi baru serta aktif dalam media sosial berdasarkan survei CSIS (  centre for strategic and Internasional studies ). Padahal jika kita cermati tarian tradisional memilliki daya tarik bagi wisatawan manca negara, bahkan tak sedikit negara lain yang ingin mengklaim tari-tarian yang kita milliki seperti halnya beberapa waktu lalu tari pandet yang berasal dari bali diklaim oleh negara Malaysia, hal ini terjadi karena kurangnya kesadaran masyarakat akan tarian tradisional disamping itu juga dipengaruhi adanya era digital yaitu era dimana manusia memilliki gaya hidup baru yang tidak bisa dilepaskan dari perangkat elektronik terutama Handphone dengan kemudahan akses internetnya menjadikan  kaum muda lupa akan segalanya. Berdasarkan data APJII ( Asosisasi penyellengara jasa internet Indonesia ) pengguna internet di Indonesia mencapai 132,7 juta per 2016 dan setidaknya satu kali setiap bulan indonesia menduduki peringkat 6 terbesar didunia dalam hal jumlah pengguna internet dan berdasarkan riset we are social dan Hootsuite 2017, pengguna internet di Indonesia tumbuh 51 % dalam kurun waktu satu tahun angka ini merupakan yang terbesar didunia, bahkan jauh melebihi pertumbuhan rata-rata global yang hanya 10 %. Diposisi kedua dan ketiga adalah Filliphina dan Meksiko keduanya memilliki angka pertumbuhan sebesar 27 %. Dari adanya beberapa data dan fakta-fakta yang ada mengenai terkikisnya budaya tari tradisional dikarenakan era digital yang menjamur maka perlu adanya upaya mempertahankan eksistensi budaya daerah, lalu bagaimanakah langkah tepat dalam mempertahankan budaya tari tradisional ditengah era digital yang menjamur?
Menurut Zuhdan kun prasetyo ( 2013 ) pembelajaran berbasis keunggulan lokal tidak muncul begitu saja akan tetapi terdapat acuan yang melandasinya acuan digunakan setidaknya pada dua hal, yaitu pembelajaran sebagai salah satu aspek pemenuhan tujuan pendidikan dan landasasan yuridis kebijakan pemerintah dalam hal pendidikan budaya.
Dengan menerapkan program “BAKUMU” ( Budoyoku Budoyomu ) dimana program ini dinamakan budoyoku budoyomu ini mempunyai arti bahwa setiap orang bertanggung jawab atau tanggung menangung atas suatu budaya yang terlahir di Indonesia dengan tetap menjaga dan melestarikan budaya tersebut. Program “BAKUMU” ( Budoyoku Budoyomu ) memfokuskan pada budaya tari tradisional dan menerapkanya pada tiap-tiap daerah di nusantara. Programini dikelola dan dijalankan oleh pemuda daerah dengan Visi & Misi menjaga dan melestarikan budaya daerah dengan mewujudkan desa budaya yang mandiri,Inovatif dan Kreatif. Berikut langkah dan tahapan dalam menjalakan “BAKUMU” ( Budoyoku Budoyomu ) yang terbagi menjadi 3 tahapan,
1.      Tahap Pertama
Tahap pertama melakukan sosialisasi kepada masyarakat desa sekitar terutama pada anak-anak dan remaja yang berusia 7-18 tahun dengan memberi edukasi mengenai tari tradisonal dan sejarahnya yang mana bertujuan untuk menciptakan kesadaran akan budaya di Era digital yang menjamur
2.      Tahap kedua
Tahap kedua pemberian Edukasi yang lebih mendalam mengenai tari tradisional serta penjelasan pembagian dalam tari serta melakukan pendaftaran dan pendataan untuk peserta yang mengikuti program
3.      Tahap ketiga
Tahap ketiga ini merupakan tahapan pamungkas yaitu dengan memberikan pelatihan tari secara berkelanjutan kepada peserta yang mengikuti pelatihan tari.
program “BAKUMU” ( Budoyoku Budoyomu ) ini terbagi menjadi 4 class atau golongan yang diperuntuhkan berdasarkan usia berikut penjelasanya.
·         Tari Tradisional ( 7-13 tahun)
Merupkan sebuah tari yang telah melampaui perjalanan perkembangan yang cukup lama dan senantiasa berfikir pada pola-pola yang telah mentradisi dimana tari ini digolongkan menjadi 2 golongan yaitu tari tradisional kerakyatan dan tari tradisional bangsawan seperti halnya tari Remong, cakalele, tor-trot dll.
·         Tari Rakyat ( 13-18 tahun)
Tari rakyat adalah tari yang berkembang dikangan rakyat biasa dimana ungkapan dari gerakan tari ini bersifat bebas tanpa ada aturan yang mengikat seperti halnya tari reog Ponorogo
·         Tari Klasik ( 7-18 tahun )
Tari klasik merupakan tari yang berkembang dikalangan masyarakat golongan bangsawan yang berkembang pada zaman kerajaan yang dibagi menjadi 2 golongan yaitu golongan bagsawan dan masyarakat biasa
·         Tari Kreasi (7-18 tahun )
Tari kreasi adalah suatu bentuk-bentuk karya dari tradisi hidup yam berkembang cukup lama dimasyarakat dimana bentuk tarian ini banyak bermunculan setelah indonesia merdeka tahun 1945
Dengan adanya pengelompokkan tari berdasarkan usia ini bertujuan untuk memudahkan seseorang dalam melakukan pembelajaran tari seperti halnya Class Tari Rakyat hanyak bisa dilakukan seseorang yang sudah remaja ( 13-18 tahun ) seperti halnya tari reog ponorogo yang mengangkat beban topeng yang cukup berat. Begitupun sebaliknya dengan class atau golongan  yang lain mempunyai kualifikasi-kualifikasi tertentu.
Dengan adanya pelatihan tari tradisional dari program “BAKUMU” ( Budayaku Budayamu ) ini akan lebih memudahkan dalam pembelajaran tari tradisional yang dimulai sejak dini dimana juga untuk meningkatkan kesadaran budaya daerah dan tentu saja lebih maksimal dalam menjaga, mengembangkan dan melestarikan budaya daerah diera digital yang kian menjamur, kemudian untuk mendukung program ini diperlukanya juga peran pemerintah dengan membuat kebijakan peraturan pendidikan mengenai wajib tari tradisional bagi usia 7-18 tahun dibarengi dengan memasukkan tari tradisional kedalam ujian Nasional sebagai ujian budaya daerah,  dengan adanya hal ini maka secara otomatis anak-anak dan remaja akan mempunyai kewajiban belajar tari tradisional dan disinilah program “BAKUMU” ( Budoyoku Budoyomu ) mengambil perannya di masyarakat menjadi tempat ataupun wadah bagi para anak-anak dan remaja untuk belajar tari tradisional. maka secara perlahan tapi pasti akan tercipta suatu bentuk eksistensi budaya daerah sekaligus menjadikan sebuah daerah tersebut menjadi desa wisata tariyang dibarengi dengan diadakanya event tari daerah secara rutin yang dibantu oleh pemerintah daerah setempat. Dengan adanya hal ini maka secara tidak langsung akan menciptakan sebuah wisata baru yang dapat memperbaiki perekonomian masyarakat melalui program “BAKUMU ( Budoyoku Budoyomu ) yang kreatif dan inovatif
Daftar Pustaka
Kun  Prasetyo,  Zuhdan.  2013.  Pembelajaran  Sains  berbasis  Kearifan Lokal. Prosiding Seminar Nasional Fisika dan Pendidikan Fisika UNS.
Hidayat, Robby. 2005. Menerobos Pembelajaran Tari Pendidikan. Malang: Banjar Seni Gantar Gumelar
“Pengertian tari”      https://id.m.wikipedia.org/wiki/Tari. Online diakses tanggal 8 November 2017
.2017. “Pertumbuhan Pengguna Internet Indonesia Nomor 1 di Dunia”.databoks,katadata.co.id. online diakses pada tanggal 8 November 2017
APJII.2016. “Survei Pengguna Internet di Indonesia. https://www.apjii.or.id/survei.online diakses pada tanggal 7 November 2017

Riset centre for strategic and Internasional studies ( CSIS ) Tentang Generasi Milenial 2017.Pdf

ditulis oleh:
Muchammad Yulianto.
Fakultas Hukum Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya