Bentuk kekecewaan pada mahasiswa
Salam generasi Z !
Merujuk pada pendidikan sumber daya manusia yang ada didunia. Akan banyak kaum akademik atau biasa disebut sebagai kaum sophia yang mengatur sedemikian banyak milyaran umat manusia dengan berbagai landasan pendidikan dengan proses kajian matang serta usaha untuk menjadikan alat pendidikan tersebut yang menekan berkurangnya kualitas jumlah manusia yang ada di muka bumi. Bercermin pada sebuah landasan tersebut akan banyak menjadi perbedebatan kaum akedemik dalam mempengaruhi kekinerjaan mereka dalam benahi kualitas sumber daya manusia. Salah satunya ialah akan melahirkan kritikan-kritikan baru seperti membagi golongan-golongan generasi yang kita hadapi sekarang yang biasa disebut dengan "generasi Z". Benteng pertahanannya merupakan cikal bakal akan terjadi musnanya manusia yang ada dimuka bumi. Bahkan sampai sekarangpun manusia yang akan menjadi penerus manusia tersebut dipaksa untuk berfikir secara sejalur untuk mendongkrak kritikan pengetahuan kaum akademik dengan mengkontruksi jati diri yang akan dibentuk pada manusia penerus tersebut. Saya pernah teringat akan kasus inul daratista yang menjadi polemik antara rhoma irama beserta dengan gusdur yang ikut serta membela. Gusdur menyampaikan bahwa manusia harus dibenahi cara berfikirnya dalam berkehidupan sosial. Namun disuatu sisi rhoma irama sangat mencekal gaya inul yang menurutnya kurang pantas ditunjukan pada kalayak umum. Sementara yang menjadi kefenomologian saya adalah dimana gusdur dan rhoma irama. Sama-sama mencoba untuk memperbaiki keadaan sosial umat manusia dengan kritikan pengetahuan mereka masing-masing. Bahkan, saya pun menilai bahwa keduanya tidak dapat dikatogarikan sebagai solusi yang baik untuk menyelesaikan permasalahan "cara berfikir saja" yang menurut saya sama-sama benar. Namun disuatu sisi tindakan gusdur yang disampaikan pun akan susah dipahami kaum diluar non akademik karena butuh proses untuk menuju kesana. Sementara dari sudut pandang rhoma irama akan selalu mencekal tanpa ada tindakan aksiologi yang berpedoman kefenomonologian. Keputus asaan saya terhadap sebuah ideologi adalah dimana bagaimanapun berkembangnya pengetahuan akan selalu dikritiki sampai kapanpun. Bahkan modernisme dengan kritikan posmodernisme akan menjadi sebuah ujung pangkal yang tidak akan berujung karena keduanya akan selalu dibutuhkan sebagai bahan kritikan pengetahuan yang menjadi dibenahi. Kita generasi Z yang sudah berusaha dalam berproses pada kualitas manusia akan menjadi kritikan dari sudut manapun. Karena bagaiamanapun kita adalah korban dari kritikan pengetahuan terdahulu dan akan dikritik kedepannya. Yang kita tanggung sungguh teramat berat, karena pada dasarnya manusia akan selalu membutuhkan pendidikan secara sosial maupun akademik dan non akademik. Kritikan saya adalah menjaluran satu ide serta pemaksaan jati diri pada kaum-kaum terbaru ini akan menjadi beban dan akan menghilangkan sifat kekritisan karena paksaan yang membatasi manusia dalam berkarya ataupun befikir. Yang dilandasi oleh pola berfikir karena korban dari pengetahuan selanjutnya. Dari saya sendiri kepercayaan diri saya dihangus bumi ratakan dengan pembunuhan karakter yang menurut saya begitu kejam. Yang normal akan dianggap gila, bagaimana dengan yang gila(?). Bagaimanapun penuduhan-penuduhan seperti membatasi cara berfikir dengan sistem menyalahkan akan membuat kontruksi pemuda yang kurang percaya diri. Saya menyarankan kepada kita yang berfikir dengan pola generasi z , jangan pernah melupakan sejarah namun juga jangan batasi cara berkarya ataupun cara berfikir kita serta jangan menggantungkan pengetahuan pada urat nadi kita. Letakkan pengetahuan pada akal yang akan selanjutnya dikelolahnya. Upaya-upaya tersebut akan selalu menyakitkan dan membanting kita menjadi korban-korban pemikiran kaum akademik yang akan selalu menciptakan pembenaran-pembenaran yang tanpa pangkal berujung. Terpaan informasi akan membuat kita jenuh tanpa cela kekritisan yang kita punya. Namun yang saya sayangkan adalah pendidikan untuk kaum terpinggir akan selalu tepinggir karena kita sebagai kaum berfikir akan selalu meributkan area lingkungan kita saja. Tanpa menengok lingkungan tak tersentuh pendidikan karakter dan akademik sama sekali. Harapan saya sudah saatnya mahasiswa berteori juga ikut serta turun langsung dalam masyarakat untuk benahi kekeliruhan yang ada. Apakah perlu 2 cak Nun untuk turun langsung dalam masyarakat? Meskipun dahulu saya sangat sekali tidak setuju dengan pemikirannya.
Sekian dari saya, saya mohon maaf sebesar-besar dengan berjiwa besar akan saya tanggung hukuman yang diberikan pada kaum akademik sebelumnya. Bilamana kalimat saya menyakitkan ataupun kurang berkenaan. Mustahil saya dapat hidup selanjutnya tanpa menulis kekalutan saya yang selalu dianggap gupuhan dan baperan. Karena terlalu risau oleh tekanan-tekanan lingkungan begitu berat. Saya akan menjadi jati diri saya sampai kapanpun biarpun saya dianggap kepala batu dan sangat sombong. Sekian semoga bermanfaat.
Salam generasi Z untuk kita!!!





